Yusran Adhitya Kurniawan’s Blog

BEST CERPEN

Sepatu Baru Buat Akbar

Rintihan kecil terdengar dari ruang Kamboja nomor 11. Bau obat dan Lysol khas rumah sakit hampir menyadarkan anak berusia 8 tahun itu. Bibir pucatnya terus memanggil-manggil ayahnya yang tak jua muncul sejak ia masuk rumah sakit sembilan jam lalu. Efek anestesi tak mampu membuatnya berbaring tenang. Ia terus gelisah mengigau tentang ayahnya diantara kesadarannya yang hilang muncul.
“Bapaaak…bapaaak..hiks, hiks…apaakk! Mana sepatunya pak? Bapak…jangan pergi pak!” Suaranya layunya seakan membuat dinding-dinding putih rumah sakit melepuh. Sementara matanya yang sembab mencair lagi.
Dari lorong pagi yang dingin, terdengar suara hak sepatu cat menginjak lantai yang basah oleh embun, diikuti gemuruh roda-roda troli besi melantunkan kesedihan di sekitarnya. Seorang perawat meggiring troli itu, membelah kabut di lorong panjang yang sunyi. Di dadanya tertera “Ardi P. S.Kep. Ns.” Pagi ini ia masih bertugas jaga di ruang anak. Mungkin perawat lain masih terbuai mimpi. Mengukir sebingkai kesenangan diantara penderitaan nyata di ruang-ruang rawat. Namun segumpal rasa sosial dan idealisme yang dimiliki membuatnya terjaga semalaman. Rautnya mengatakan itu.
Di ujung lorong ia menemui tujuannya. Ruang Kamboja nomor 11. Ingin rasanya ia membuka pintu itu, namun ia tak yakin. Takut pada kenyataan yang akan ia hadapi di dalam. Rupanya perawat klimis itu mulai jemu dengan penderitaan yang ia tonton setiap hari, selama tiga tahun ini.
Dinginnya pagi menjalar ke seluruh tubuh saat tangan kanannya menyentuh gagang pintu yang terbuat dari kuningan itu.
“Klik…Krrreeeekkk…” bibir tua ruang Kamboja seolah mengucapkan salam pada bocah yang terbungkus selimut itu. Ia menoleh perlahan, lalu mengintip dari sela-sela kelopak matanya.
“Bapaakk…bapaaakk!” Anak itu memanggil Ardi yang dikira ayahnya. Sekarang ia sadar sepenuhnya. Ardi melangkah perlahan. Mendorong troli besi itu. Pandangannya terus tertancap pada pria kecil yang terkulai lemah di tempat tidur seraya menyapanya.
“Kamu sudah siuman?! Alhamdulillaah. Adik masih sakit, jangan banyak bergerak dulu ya. Euu…Perkenalkan, nama saya perawat Ardi, saya yang merawat adik dari tadi malam. Gimana tidurnya nyenyak? Tanya Ardi.
Ardi mencoba mengkaji keadaan Akbar sambil memeriksa tensi dan suhu tubuhnya. Tapi tak satu pun pertanyaan dijawab. Anak itu gelisah dan tak berdaya. Ia hanya menanyakan ayahnya.
“Bapaak…bapak…mana? Om… bapak mana om?” Anak itu semakin gelisah.
“Brakkk!!!”
Tiba-tiba seorang wanita setengah baya muncul membanting pintu. Ia panik dan berlari mendekati anak itu. Merubuhkan dirinya di samping tempat tidur, lalu menangis sejadinya. Ardi hanya bisa terdiam melihat semua itu. Ia bingung, tubuhnya mulai gemetar dan terpaku.
“Akbar! Emak nyari-nyari kamu dari kemarin sore. Heuuu…euuuu…”
“Mak, bapak mana mak?”
“Bapakmu…”
Ibunya hanya bisa menangis tersedu. Menyesali kesalahannya malam itu. Ia menghantam hati suaminya dengan tuntutan hidup yang melesat dari mulutnya. Meluluhlantahkan perasaan dan harga diri suaminya sebagai lelaki, suami dan ayah yang baik.
“Satu minggu ini Akbar terus merengek pak. Dia minta dibelikan sepatu baru. Besok kan hari pertama Akbar masuk kelas dua. Katanya dia malu sama teman-temannya kalau harus pakai sepatu rombeng itu lagi. Mana sepatu yang sebelah kanan juga sudah rusak. Alasnya robek sehabis dipakai main bola. Kemarin, seharian Akbar ngamen dan nyuci gerbong kereta supaya bisa nabung buat beli sepatu baru. Tapi cuma dapet dua puluh ribu perak. Apa bapak nggak kasihan? Bapak turutin kek. Masa cuma buat beli sepatu aja nggak bisa. Makanya pak, cari kerjaan yang lebih layak, jangan Cuma ngandelin ngebecak! Hutang berceceran di mana-mana. Mau kayak apa masa depan kita nanti pak?”.
Lelaki tua itu tak mampu berkata apa pun. Ia kasihan pada Akbar. Ia merasa tak berguna sebagai ayah karena keinginan anak satu-satunya tak terpenuhi. Keluarganya sengsara dan tak punya masa depan.
“Semua ini gara aku. Aku memang nggak berguna. Cuma tukang becak melarat!” gumam lelaki tua itu dalam hati. Tanggungjawab sebagai ayah dan cintanya pada Akbar membuat hatinya berdarah, hampir berhamburan. Mata tuanya berkaca-kaca. Tapi jiwa lelakinya menahan air matanya dan menyerapnya lagi untuk ia pendam dalam hati. Malam itu juga ia pergi dari rumah. Entah kemana.
“Ayah pasti bawakan sepatu baru buat kamu”. Kata hatinya mengelus kening Akbar yang sedang tidur setelah lelah menangis dan mengurung diri di kamar. Belum sempat Ardi berempati dan menjelaskan keadaan Akbar, tiba-tiba seorang lelaki tua datang dan menjerit histeris. Ia menangis memeluk Akbar.
“Bapak, bapaak…heuuuu…bapak ke mana aja pak?!” Akbar menangis lebih keras dan memluk ayahnya. Sementara ibunya masih terduduk di samping tempat tidur.
“Maafkan bapak nak! Heuuu…bapak pergi cari duit buat kamu!”
“Bapak jangan pergi lagi pak! Jangan pergi!” Ardi hanya bisa terpaku lebih dalam, badannya membatu, kedua bibirnya rapat, menyatu.
“Astagfirullah, aku belum sempat memberi tahu mereka tentang kondisi anaknya. Kedua belah kakinya telah diamputasi”. Bisik hatinya.
Akbar tertabrak mobil ketika sedang naik sepeda di mencari ayahnya yang sudah dua hari tak pulang ke rumah. Ia dibawa ke rumah sakit oleh seseorang yang bernama pak Wardi yang sama sekali tak mengenalnya.
Ardi semakin membeku. Hatinya semakin hancur, nuraninya meremah saat mendengar perbincangan Akbar dan ayahnya.
“Bapak!!”heuuu…heuuu..euuuu…”
“Nak…kamu kenapa? Bapak baru tahu tadi kalau kamu di rumah sakit. Pas bapak pulang Mbok Sum ngasih tau bapak”. Lelaki tua itu terus menangis dan memeluk anaknya. Lalu ia mengeluarkan sebuah kado berbentuk kotak terbungkus rapih.
”Ini nak, bapak bawakan sepatu baru buat kamu. Kalau sudah sembuh dipakai yah!”

Looking for something?

Use the form below to search the site:

Still not finding what you're looking for? Drop a comment on a post or contact us so we can take care of it!