Yusran Adhitya Kurniawan’s Blog

Story Life

Kisah Anak Sepasang Binatang

by on Apr.02, 2010, under Story Life

ibuBunda, jadah itu artinya apa?”, tanyaku pada suatu malam, selepas sholat Isya’ berjamaah dengan Bunda-ku yang kelihatan letih, namun matanya tetap memancarkan keteduhan.
Bunda tersentak waktu itu. Tak menyangka pertanyaan itu akan keluar dari sela bibir mungilku, gadis kecilnya yang baru berumur lima tahun.

“Kenapa Sayang?” Bunda bertanya sambil mendekapku di dadanya.

“Orang-orang menyebutku seperti itu. Mereka bilang, hey anak jadah ! gitu…” jawabku dengan sangat polos. Aku memeluk Bunda semakin erat dan merasakan perlindungannya.
Di waktu lainnya, aku ajukan pertanyaan padanya, “Bunda, apa saya punya Ayah? Orang-orang itu bilang saya tak punya Ayah,” tanyaku.

Bunda baru saja selesai mendongeng padaku waktu itu. Bunda tertegun begitu lama. “Ada !” tegas Bunda meyakinkanku.

“Di mana? Kenapa aku tak bisa menemuinya?” Bunda membimbingku bangkit dari tempat tidur kayu berkepinding. Berjalan ke halaman tanpa penerangan.
“Kau lihat langit di atas sana ?” Bunda bertanya tanpa melepas genggamannya.

Aku mengangguk mengiyakan.

“Ayahmu ada di sana !” jawab Bunda meyakinkan. Aku tidak melihat apa-apa. Selain langit hitam dan taburan berjuta bintang. Tidak ada gambar wajah manusia terlihat di sana. Tapi aku tidak ingin bertanya lagi. Barangkali ayahku adalah satu di antara kerlip bintang-bintang itu. Besok jika anak-anak itu menggodaku lagi dan mengatakan aku tidak punya ayah aku sudah punya jawabannya.
Yah… memang, sejak kecil aku cuma punya Bunda. Perempuan yang miskin tanpa harta tapi penuh cinta. Yang selalu menyediakan dadanya untuk menyerap luka-luka. Dengan upah seadanya sebagai tukang cuci pakaian pada beberapa keluarga,
,”Bunda selalu menabung. Katanya aku harus sekolah setinggi mungkin dan jadiorang pandai. Agar tidak bodoh dan melarat seperti dirinya. Bunda lewati seluruh kehidupan berat sendiri. Mengasuh anak yang terustumbuh tanpa pendamping di sisi. Tidak mudah memang, tapi tidak sekalipunaku melihatnya berduka. Kecuali sekali pada suatu malam aku terbangun danmelihatnya mengisak di atas sehelai sajadah.Setiap kali aku menanyakan hal itu pada Bunda, cuma air matalah yangkemudian menjadi jawabannya. Seperti menguak luka yang tak pernah kering<br>sama sekali. Lalu aku jadi tak pernah tega memaksa Bunda untuk menjawabnya.Sebab Bunda terlalu mulia untuk terluka. Aku tidak ingin mengecewakan Bunda.Perjuangannya tidak boleh sia-sia. Keinginannya melihatku sekolah setinggimungkin memacu semangatku untuk belajar dengan giat. Aku selalu berhasil mencapai gelar juara sejak duduk dibangku SD hingga SMU. Lalu kemudian akuterpaksa berpisah dengan Bunda. Aku diterima masuk tanpa test di salah satu perguruan tinggi terkemuka di kota Pontianak. Sekarang aku bahkan telahditerima bekerja di salah satu Bank Syariah terkemuka yang baru berdiri. Akuingin menjemput Bunda untuk mengajaknya pindah ke kota ini. Tapi Bundamenolak. Kukira dengan meninggalkan tempat kelahiran aku akan bisa hidup dengan tenang. Semua mimpi buruk masa kecil tentang siapa ayahku tidak akanmemburuku sampai ke kota ini. Tapi tidak. Sepertinya ia menjelma jadi kutukan yang mengikuti kemana pergi. Aku telah dewasa kini. Telah siap untuk menikah dan berkeluarga. Sudah tiga orang lelaki shaleh yang datang mengajukan lamaran padaku. Tapi sudahtiga kali pula aku terpaksa menolaknya. Aku takut menceritakan keluargaku.Aku tak mungkin mengatakan bahwa aku anak sebuah bintang.Rabbi …, aku hanya ingin tahu siapa lelaki yang menjadi ayahku. Hanya

Bunda selalu menabung. Katanya aku harus sekolah setinggi mungkin dan jadi orang pandai. Agar tidak bodoh dan melarat seperti dirinya. Bunda lewati seluruh kehidupan berat sendiri. Mengasuh anak yang terus tumbuh tanpa pendamping di sisi. Tidak mudah memang, tapi tidak sekalipun aku melihatnya berduka. Kecuali sekali pada suatu malam aku terbangun dan melihatnya mengisak di atas sehelai sajadah.
Setiap kali aku menanyakan hal itu pada Bunda, cuma air matalah yang kemudian menjadi jawabannya. Seperti menguak luka yang tak pernah kering sama sekali. Lalu aku jadi tak pernah tega memaksa Bunda untuk menjawabnya.
Sebab Bunda terlalu mulia untuk terluka. Aku tidak ingin mengecewakan Bunda.

(continue reading…)

22 Comments :, , more...

Pengaruh Sebutir PASIR dalam Kehidupan

by on Mar.31, 2010, under Story Life

pasirPenakluk pertama Mount Everest, puncak tertinggi dunia di pegunungan Himalaya, Sir Edmund Hillary, pernah ditanya wartawan tentang apa yang paling ditakutinya dalam menjelajah alam. Dia lalu mengaku tidak takut pada binatang buas, jurang yang curam, bongkahan es raksasa, atau padang pasir yang luas dan gersang sekali pun!

Lantas apa?

“Sebutir pasir yang terselip di sela-sela jari kaki,” kata Hillary.

Wartawan heran, tetapi sang penjelajah melanjutkan kata-katanya,

“Sebutir pasir yang masuk di sela-sela jari kaki sering sekali menjadi awal malapetaka. Ia bisa masuk ke kulit kaki atau menyelusup lewat kuku. Lama-lama jari kaki terkena infeksi, lalu membusuk. Tanpa sadar, kakipun tak bisa digerakkan. Itulah malapetaka bagi seorang penjelajah sebab dia harus ditandu.”

Harimau, buaya, dan beruang, meski buas, adalah binatang yang secara naluriah takut menghadapi manusia. Sedang menghadapi jurang yang dalam dan ganasnya padang pasir, seorang penjelajah sudah punya persiapan memadai. Tetapi, jika menghadapi sebutir pasir yang akan masuk ke jari kaki, seorang penjelajah tak mempersiapkannya. Dia cenderung mengabaikannya. Apa yang dinyatakan Hillary, kalau kita renungkan, sebetulnya sama dengan orang yang mengabaikan dosa-dosa kecil. Orang yang melakukan dosa kecil, misalnya mencoba-coba mencicipi minuman keras atau membicarakan keburukan orang lain, sering menganggap hal itu adalah dosa yang kecil. Karena itu, banyak orang yang kebablasan melakukan dosa-dosa kecil sehingga lambat laun jadi kebiasaan.

Kalau sudah jadi kebiasaan, dosa kecil itu pun akan berubah jadi dosa besar yang sangat membahayakan dirinya dan orang lain.

Menyepelekan pekerjaan – pekerjaan kecil juga akan memberikan efek yang sama buruknya pada prestasi kerja kita.

ana dapet cerita ini dari Zidna..Syukron. ^^

Leave a Comment :, , more...

Tidaklah Mudah Berada di Puncak Kehidupan

by on Mar.31, 2010, under Story Life

puncak-itu____Merubah kebiasaan yang telah menjadi tabiat kita sehari-hari bukanlah suatu hal yang mudah untuk dilakukan. Seperti menjadikan diri lebih baik atau menjadikan diri lebih buruk dari hari-harinya. Seperti yang disampaikan oleh Ibnu Jauzi bahwa dalam merubah diri menjadi lebih baik itu tidak mudah, mengangkat kaki dari jalan yang salah kepada jalan yang benar itu tidak semudah membalikkan telapak tangan, merubah diri dari kelalaian kepada suatu ketaatan itu sulit. Karena jalan yang kita tempuh itu penuh dengan hal-hal yang kita benci,banyak halangan duri-duri tajam yang membuat kita sakit. Akan tetapi, ketika selesai melakukannya kita akan merasakan lezatnya iman hidup dalam kebenaran yang Allah berikan kepada kita. dari kebiasaan keburukn menjadi suatu kebaikan

Perbanyak dia melatih jiwa agar tidak banyak komentar Lisan banyak diam Sesungguhnya lisan akan cenderung diam jika jiwa tidak bergejolak Dengan diam akan meraba keburukan bila telah teraba maka jiwa akan luluh dan hancur dan jiwa akan menyadari bahwa kita berada di jalan kehendak Alloh

Ingatkan jiwa dengan kekliruan2 satu persatu kenali akibat kekeliruan hingga sadar.

Lupakan sejenak ketaatan.

Sadari diri ketika buat dosa dan inagtakan kelalialaian itu hingga erngkau terus berada dalam mengingatnya. Lupakan ketatan yang telah hingga suara hati berteriak menangis. Jika tidak nangis kau harus cepat jauhkan diri dari semua yang menjadi tanmgga maksiat. Yakinkan pada diri kau tidak akan bertubat jika tidak bisa meningglkan apa yang menjadi tangga maksat

Lemahkan jiwa dengn lapar. Hancurkan jiwa dengan banyak puasa dan rasa lapar. Ia kan tunduk dengan menerima papun.

Perangi sikap menunda. Jika engkau keinginan menunda untuk kembvali kepad Allah ingatkan jiwa bahwa tidak ada ajal yang dapat diperkirakan. Ajal akan tiba akan tiba ketika kita belun kembali pada Allah dalam taubat

Cari teman jiwa yangf dapat memberi petunjuk

Ajari dzikir, teliti dari kecerobohan

Kelajatan munajat Pelajari ilmu pengetahuan

Kenali akhlak-akhlak sobat nabi

Kebiasaan akan kebaikan..

1 Comment :, , more...

Based on D’True Story : HARTA VS CINTA

by on Mar.27, 2010, under Story Life

jam1

“Cit cuit…cit cuit! Kik kuk! Kik kuk!”

Suara itu memekakan telingaku hingga aku terpaksa terbang dari kerajaan mimpi tidur siangku. Ku buka kelopak mata yang berat ini perlahan. Lalu kupicingkan pandangan pada jam beker warna kuning berbentuk burung di atas meja belajar. Hanya suaranya yang keras dan khas yang mempan untuk telingaku. Sudah tiga tahun ia setia membangunkanku, mengingatkan jadwal kuliah, janji-janji yang (sepertinya) penting, dan praktikum siang ini. Ya, sekarang aku ingat jam tiga ada praktikum fisiologi. Jarum pendeknya menunjuk hampir ke angka tiga dan jarum panjangnya tepat ke angka enam.

”Hah, 14.30!”

Aku terperanjat. Cepat kumatikan bekerku. Ia seakan tertawa dan mengejek ku.

”Ha…ha…ha…Kamu terlambat lagi Rangga!”

Aku coba bangkit dari pembaringanku yang sudah dua jam ku arungi. Tapi tubuh ini serasa lengket dengan kasur. Berat sekali. Kalau bukan karena para asisten yang killer dan peraturan yang ketat, aku lebih memilih meneruskan tidur siangku atau taking relax membaca novel sambil ngemil. Daripada harus keluar kost-an disiang yang panas ini. Lebih panas dari biasanya.

”Wah, kalau makan sup buahnya bu Rini enak banget nih. Hmmm…segerrr!”

Tapi apa boleh buat, lebih baik aku segera mandi biar segar, terus berangkat. Oh iya, aku punya rencana khusus siang ini. Berangkat bareng Novi. Sudah berkali-kali aku mengajaknya berangkat bareng, tapi selalu gagal. Pertengkaran lecil sehabis kuliah tadi pagi membuatku geram. Ajakanku untuk pulang bareng ia tolak mentah-mentah. Gara-garanya si Blacky, motor bebek item kesayanganku yang bututnya minta ampun. Nono lebih memilih pulang bareng Aldo, sama-sama anak kedokteran tapi dia angkatan 2004 sedang aku dan Nono angkatan 2005. tam[angnya sih biasa saja, tapi motor racing-nya bisa bikin cewek sekampus ngiler ingin menclok. Apalagi yang matre seperti Nono. Setahuku Aldo sering dekat dengan beberapa cewek, tapi tak satu pun yang jadi pacarnya, tak tahu kenapa.

Nono memang matre abis. Nono adalah panggilan sayangku untuk Novi. Memang nama itu tak lazim bagi seorang perempuan. Itu merupakan ejekan yang kreatif. Dia akan merasa malu kalau ku panggil begitu. Aku tahu panggilan itu secara tidak sengaja saat aku berkunjung ke kost-annya Nono untuk mengerjakan tugas kelompok. Semua teman kost-nya memanggilnya begitu. Dan mungkin selamanya aku akan memanggilnya begitu.

Entah apa yang menarik dari gadis mungil asal kota Cirebon itu. Semua sifat yang aku benci ada padanya. Matrealistis, sombong, pemarah, korban mode, cerewet, manja, malas, dan sepertinya (aku yakin) dia tidak bisa masak. Tipe isteri paling buruk sejagat raya. Malang benar lelaki yang jadi suaminya. Tapi aku akui parasnya memang cantik, lucu, dan imut-imut, mesikpun kalau marah bisa jadi sangat menyeramkan.

Hubunganku dengan Nono cukup aneh dan unik. Secara samar-samar aku suka dia. Tapi sifatnya, terutama matre-nya itu, sering membuatku sebal dan jengkel. Dan sialnya lagi, kita satu kelas. Kadang aku berfikir, mengapa Tuhan menciptakan perempuan seperti dia? Dan kenapa kita harus bertemu di dunia yang luas ini? Aku memang benci dengan sifatnya, tapi entah kenapa aku bahagia jika dekat dengannya, dan senang jika bercanda dengannya. Kita juga sering bicara dari hati ke hati, saling curhat dan diakhiri dengan candaan mesra khas Rangga.

Awalnya hubungan kita biasa saja. Tapi karena aku sering menggodanya, teman-teman sekampus menyangka kalau aku punya perasaan khusus padanya. Dan tak jarang mereka bergosip yang tidak-tidak tentang hubunganku dengan Nono. Mungkin karena itulah Nono sebal padaku. Dan kita sering terlibat pertangkaran-pertengkaran kecil. Terutama masalah materialisime.

(continue reading…)

Leave a Comment :, , more...

Kisah Seribu Kelereng

by on Mar.27, 2010, under Story Life

master-marble-glass2-300x300Mari kita ikuti kisah menarik ini :

Makin tua, aku makin menikmati Sabtu pagi. Mungkin karena adanya keheningan sunyi senyap sebab aku yang pertama bangun pagi, atau mungkin juga karena tak terkira gembiraku sebab tak usah masuk kerja. Apapun alasannya, beberapa jam pertama Sabtu pagi amat menyenangkan.
Beberapa minggu yang lalu, aku agak memaksa diriku ke dapur dengan membawa secangkir kopi hangat di satu tangan dan koran pagi itu di tangan lainnya. Apa yang biasa saya lakukan di Sabtu pagi, berubah menjadi saat yang tak terlupakan dalam hidup ini. Begini kisahnya :
Aku keraskan suara radioku untuk mendengarkan suatu acara Bincang – bincang Sabtu Pagi. Aku dengar seseorang agak tua dengan suara emasnya. Ia sedang berbicara mengenai seribu kelereng kepada seseorang di telpon yang dipanggil “Tom”. Aku tergelitik dan duduk ingin mendengarkan apa obrolannya.
“Dengar Tom, kedengarannya kau memang sibuk dengan pekerjaanmu. Aku  yakin mereka menggajimu cukup banyak, tapi kan sangat sayang sekali kau harus meninggalkan rumah dan keluargamu terlalu sering. Sulit kupercaya kok ada anak muda yang harus bekerja 60 atau 70 jam seminggunya untuk memenuhi kebutuhan sehari – hari. Untuk menonton pertunjukan tarian putrimu pun kau tak sempat”.
Ia melanjutkan : “Biar kuceritakan ini, Tom, sesuatu yang membantuku mengatur dan menjaga prioritas apa yang yang harus kulakukan dalam hidupku”.
Lalu mulailah ia menerangkan teori “seribu kelereng” nya.” Begini Tom, suatu hari aku duduk – duduk dan mulai menghiitung – hitung. Kan umumnya orang rata – rata hidup 75 tahun. Ya aku tahu, ada yang lebih dan ada yang kurang, tapi secara rata – rata umumnya kan sekitar 75 tahun. Lalu, aku kalikan 75 ini dengan 52 dan mendapatkan angka 3900 yang merupakan jumlah semua hari Sabtu yang rata – rata dimiliki seseorang selama hidupnya. Sekarang perhatikan benar – benar Tom, aku mau beranjak ke hal yang lebih penting”.
“Tahu tidak, setelah aku berumur 55 tahun baru terpikir olehku semua detail ini”, sambungnya, “dan pada saat itu aku kan sudah melewatkan 2800 hari Sabtu. Aku terbiasa memikirkan, andaikata aku bisa hidup sampai 75 tahun, maka buatku cuma tersisa sekitar 1000 hari Sabtu yang masih bisa kunikmati”.

(continue reading…)

22 Comments :, , more...

NILAI DARI SEKEPING UANG KUNO

by on Mar.27, 2010, under Story Life

uang-kunoFaris keluar dari pekarangan rumahnya, berjalan tak tentu arah dengan rasa putus asa. Sudah cukup lama ia menganggur. Kondisi finansial keluarganya morat-marit. Sementara para tetangganya sibuk memenuhi rumah dengan barang-barang mewah, ia masih bergelut memikirkan cara memenuhi kebutuhan pokok keluarganya sandang dan pangan. Anak-anaknya sudah lama tak dibelikan pakaian, istrinya sering marah-marah karena tak dapat membeli barang-barang rumah tangga yang layak. Sebenarnya Faris sudah tak tahan dengan kondisi ini, dan ia tidak yakin bahwa perjalanannya kali inipun akan membawa keberuntungan, yakni mendapatkan pekerjaan.
Ketika Faris tengah menyusuri jalanan sepi, tiba-tiba kakinya terantuk sesuatu. Karena merasa penasaran ia membungkuk dan mengambilnya. “Uh, hanya sebuah koin kuno yang sudah penyok-penyok,” gerutunya kecewa. Meskipun begitu ia membawa koin itu ke sebuah bank.

“Sebaiknya koin ini Bapak bawa saja ke kolektor uang kuno,” kata teller Bank memberi saran. Faris mengikuti anjuran teller, membawa koinnya ke kolektor. Beruntung sekali, si kolektor menghargai koin itu senilai 300 ribu.
Faris merasa sangat gembira dan dia mulai memikirkan apa yang akan di lakukannya dengan rejeki nomplok ini. Ketika melewati sebuah toko perkakas, dilihatnya beberapa lembar kayu sedang diobral. Dia bisa membuatkan beberapa rak untuk istrinya karena istrinya pernah berkata mereka tak punya tempat untuk menyimpan jambangan dan stoples.
Sesudah membeli kayu seharga 300 ribu, Faris memanggul kayu tersebut dan beranjak pulang. Di tengah perjalanan dia melewati bengkel seorang pembuat mebel. Mata pemilik bengkel sudah terlatih melihat kayu yang dipanggul Faris. Kayunya indah, warnanya bagus, dan mutunya terkenal. Kebetulan pada waktu itu ada pesanan mebel. Dia menawarkan uang sejumlah 1 juta pada Faris. Faris nampak ragu – ragu, namun pengrajin itu meyakinkannya dan bahkan menawarkan mebel yang sudah jadi agar dipilih Faris. Kebetulan di sana ada lemari yang pasti disukai istrinya. Dia menukar kayu tersebut dan meminjam sebuah gerobak untuk membawa lemari itu. Faris-pun segera membawanya pulang.

(continue reading…)

6 Comments :, , more...

Landak, Aku Ingin Memelukmu…

by on Mar.26, 2010, under Story Life

landakSuatu Hari… Yulia menunggu dengan antusias.
Kaki kecilnya bolak-balik melangkah dari ruang tamu ke pintu depan.
Diliriknya jalan raya depan rumah… Belum ada.
Yulia masuk lagi… Keluar lagi, belum ada juga.
Masuk lagi… Keluar lagi… Begitu terus selama hampir satu jam.
Suara si Mbok yang menyuruhnya berulang kali untuk makan duluan, tid ak dia gubris.
Pukul 18:30, “Tinnn… Tiiiinnnnn.. .!!”

Yulia kecil melompat girang, “Mama pulang! Papa pulang!”
Dilihatnya dua orang yang sangat dia cintai itu masuk ke rumah.
Yang satu langsung menuju ke kamar mandi.
Yang satu lagi menghempaskan diri di sofa sambil mengurut-urut kepala.
Wajah-wajah yang letih sehabis bekerja seharian, mencari nafkah bagi keluarga,bagi sikecil Yulia juga… yang tentunya belum mengerti banyak.
Dalam otaknya yang sedang berkembang, Yulia cuma tahu bahwa ia kangen Mama dan Papa, dan ia girang karena Mama dan Papa sudah pulang.
“Mama, mama…. Mama, mama….”, Yulia menggerak-gerakkan tangan meminta perhatian.
“Mama….”, Mama diam saja.
Dengan cemas Yulia bertanya, “Mama sakit ya? Mana yang sakit?… Mam, mana yang sakit?”
Mama tid ak menjawab, hanya mengernyitkan alis sambil memejamkan mata.
Yulia makin gencar bertanya, “Mama, mama… mana yang sakit? Yulia ambilin obat ya? Ya? Ya?”
Tiba-tiba… “Yulia!! Kepala mama lagi pusing! Kamu jangan berisik dong!”, Mama membentak dengan suara tinggi.
Kaget…!!
Yulia mundur perlan…

Matanya menyipit.
Kaki kecilnya gemetar…

Bingung…
”Yulia salah apa? Yulia sayang Mama..
. Yulia salah apa?” Takut-takut, Yulia menyingkir ke sudut ruangan. Mengamati Mama darI jauh, yang kembali mengurut-ngurut kepalanya.
Otak kecil Yulia terus bertanya-tanya, ”Mama, Yulia salah apa? Mama tid ak suka dekat-dekat Yulia ya? Apa Yulia mengganggu Mama? Yulia tid ak boleh sayang Mama?”

(continue reading…)

Leave a Comment :, , more...

PINTU JALAN MASUKNYA SYETAN

by on Mar.26, 2010, under Story Life


pintuHati manusia bagaikan benteng sedangkan syetan adalah musuh yang senantiasa mengintai untuk menguasai benteng tersebut. Kita tidak bisa menjaga benteng kalau tidak melindungi atau menjaga dan menutup pintu-pintu masuknya syetan ke dalam hati.

Kalau kita ingin memiliki kemampuan untuk menjaga pintu agar tidak diserbu syetan, kita harus mengetahui pintu-pintu mana saja yang dijadikan syetan sebagai jalan untuk menguasai benteng tersebut.

Pintu tempat masuknya syetan adalah semua sifat kemanusiaan manusia yang tidak baik. Dengan demikian, sebenarnya sangat banyak pintu yang dapat dimasuki syetan, namun kita akan membahas pintu-pintu utama saja, yang dijadikan prioritas oleh syetan untuk masuk menguasai manusia.

Di antara pintu-pintu besar yang akan dimasuki syetan itu adalah :

1. MARAH

Marah adalah kalahnya tentara akal oleh tentara syetan. Bila manusia marah, maka syetan bisa mempermainkannya seperti anak-anak mempermainkan kelereng atau bola. Orang marah adalah orang yang sangat lemah di hadapan syetan.

2. HASAD

Manusia yang hasud dan tamak menginginkan sesuatu dari orang lain, maka ia akan menjadi buta. Rasulullah bersabda: ”Cintamu terhadap sesuatu bisa menjadikanmu buta dan tuli”.

Mata yang bisa mengenali pintu masuknya syetan akan menjadi buta bila ditutupi oleh sifat hasad dan ketamakan sehingga tidak melihat. Saat itulah syetan mendapatkan kesempatan untuk masuk ke hati manusia sehingga orang itu mengejar untuk menuruti syahwatnya walaupun jahat.

3. PERUT KENYANG

Rasa kenyang menguatkan syahwat yang menjadi senjata syetan. Dalam satu riwayat disebutkan bahwa Iblis pernah menampakkan diri di hadapan Nabi Yahya bin Zakariyya a.s. Beliau melihat Iblis membawa beberapa belenggu dan gantungan pemberat.

Nabi Yahya bertanya, ”Wahai iblis belenggu dan pemberat apa ini?”

Iblis menjawab, ”Ini adalah syahwat yang aku gunakan untuk menggoda anak cucu Adam.

”Apa hubungannya pemberat ini dengan manusia ?”

”Bila kamu kenyang, maka aku beri pemberat sehingga engkau enggan untuk sholat dan dzikir”.

”Apa lainnya?”

”Tidak ada!”, jawab syetan.

Kemudian Nabi Yahya berkata, ”Demi Allah, aku tidak akan mengenyangkan perutku dengan makanan selamanya.

Iblispun berkata, ”Demi Allah aku tidak akan memberi nasehat pada orang Muslim selamanya”.
Kebanyakan makan mengakibatkan munculnya enam hal tercela :
1. Menghilangkan rasa takut kepada Allah dari hatinya.

2. Menghilangkan rasa kasih sayang kepada makhluk lain karena ia mengira bahwa semua makhluk

sama kenyangnya dengan dirinya.
3. Mengganggu ketaatan kepada Allah.
4. Bila mendengarkan ucapan hikmah ia tidak mendapatkan kelembutan.
5. Bila ia bicara tentang ilmu maka pembicaraannya tidak bisa menembus hati manusia.
6. Akan terkena banyak penyakit jasmani dan rohani

(continue reading…)

26 Comments :, , more...

Are You A Lazy Thinker?

by on Mar.25, 2010, under Story Life

Anda pasti tidak malas bekerja. Tapi, apakah Anda tidak malas berpikir juga?
brainenergy humanOrang yang malas berpikir atau Lazy Thinker ada 2 tipe, yaitu:
LAZY THINKER TIPE A.
Lazy thinker tipe A adalah orang yang malas berpikir, sehingga menerima begitu saja segala sesuatu. Atau malas berpikir, sehingga begitu saja memutuskan dan mengambil tindakan. Lazy thinker yang hanya bertindak tanpa berpikir.
LAZY THINKER TIPE B
Lazy thinker tipe B adalah orang yang terlalu banyak mikir, sehingga terlalu sulit untuk menerima sesuatu. Atau kebanyakan mikir, sehingga tak kunjung memutuskan dan mengambil tindakan. Lazy thinker yang hanya terus berpikir, kecuali berpikir tentang perlunya bertindak.
Waspadalah, sebab sebaiknya kita tetap berada di tengah-tengah antara A dan B.
Sebagai catatan, ini BUKAN soal BENAR atau SALAH, dan ini BUKAN soal BAIK atau BURUK. Ini hanyalah soal cara berpikir kita. Paling jauh, ini cuma soal bagaimana bersikap lebih bijaksana. Ingat pula, kita semua memang cenderung terjebak di dalam A atau B. Itu saja.
Jadi, kita memang tak perlu merasa dihakimi.

LAZY THINKER TIPE A
Apa yang diungkapkan berikut ini, disebut Dr. Robert Cialdini sebagai ‘the cue of life’. Profesor Tom Hobbs dari Chapman University menyebutnya ‘The CLARCCS CUE. Yaitu, kecenderungan diri kita untuk malas berpikir dan langsung bertindak. Bertindak tanpa dipikir-pikir.

1. COMPARISON RULE
Jika orang-orang melakukannya, kita juga harus melakukannya.
Hanya sedikit dari kita yang mampu bertahan dari hukum ini. Kita berjalan di sebuah trotoar, dan sesaat kemudian di depan sana, kita melihat tiga orang sedang menengadah menatap ke langit. Saat kita makin mendekati mereka, apa yang kita lakukan? Kita ikut melihat ke langit dan bertanya: “Ada apa ya?”
Burung?
Pesawat?
UFO?
Bukan! Itulah yang namanya comparison rule atau hukum pembandingan. Saat orang-orang di sekitar kita melakukannya, kita juga merasa harus melakukannya. Orang berbondong-bondong membeli HP baru, kita juga. Banyak pengusaha mem-PHK karyawan, kita juga ikut melakukannya. Jika kita tidak berpikir dengan berhati-hati, kita akan menjadikan perilaku orang lain sebagai standar perilaku kita sendiri. Kita menjadikannya sebagai pedoman dan guidance.
Kita pikir saja sendiri. Jika seseorang di dekat kita berteriak “Gempa, gempa!”, maka sudah sewajarnya kita bereaksi cepat dan melihat ke arah mana orang lain bergerak. Tapi jika orang lain berkata pada kita, “barang ini bagus, belilah untuk kita sendiri”, apakah kita memang langsung membelinya?
Lihatlah iklan di televisi, dengan mudah kita akan menemukan, bagaimana berbagai iklan memanfaatkan hukum pembandingan ini. Bahkan, acara talkshow di televisi pun menggunakan lampu ’applause’ untuk merealisasikan hukum ini. Jika sebagian orang mulai bertepuk tangan, cepat atau lambat, kita juga akan bertepuk tangan.
Kita mungkin pernah mendengar, kisah tukang obat di pinggir jalan. Di antara para penontonnya, adalah teman-temannya sendiri, yang berperan sebagai pembeli. Hukum ini juga berlaku di situ.
Kita pasti pernah disodori formulir sumbangan. Perhatikanlah, jika benar-benar menyumbang, maka nama kita sangat mungkin bukan di nomor yang pertama. Di atas kita, sudah ada sekian orang penyumbang, dengan nilai sumbangan yang langsung atau tidak merupakan ’proyeksi dan harapan’, agar kita menyumbang dengan jumlah yang sama. Syukur kalo bisa lebih. Tul gak?
Maaf, kita tidak boleh menggeneralisir. Sebab mungkin saja, ada orang lain yang sudah menyumbang duluan dengan nilai sesuai yang tertera di sana. Dan kalo kita mau nyumbang, ya nyumbang aja. Lalu lupakan. Kalo nggak ya nggak usah sekalian. Ini hanya cerita soal kecenderungan cara berpikir kita
sebagai manusia.
(continue reading…)

6 Comments :, , more...

Perjuangan Seekor Kupu-Kupu Untuk Manusia

by on Mar.25, 2010, under Story Life

butterflyseseorang menemukan kepompong seekor kupu. Suatu hari lubang kecil muncul. Dia duduk mengamati ketika calon kupu-kupu itu berjuang dengan memaksa dirinya melewati lubang kecil tersebut. Kemudian kupu-kupu itu berhenti membuat kemajuan. Kelihatannya dia telah berusaha semampunya dan dia tidak bisa lebih jauh lagi. Akhirnya orang tersebut memutuskan untuk membantunya. Dia mengambil sebuah gunting dan memotong sisa kekangan dari kepompong itu.

Kupu-kupu tersebut keluar dengan mudahnya. Namun, dia mempunyai tubuh gembung dan kecil serta sayap-sayap mengkerut. Orang tersebut terus mengamatinya karena dia berharap bahwa pada suatu saat, sayap-sayap itu akan mekar dan melebar sehingga mampu menopang tubuhnya, yang mungkin akan berkembang seiring dengan berjalannya waktu.

Semuanya tak pernah terjadi. Kenyataannya, kupu-kupu itu menghabiskan sisa hidupnya dengan merangkak disekitarnya dengan tubuh gembung dan sayap-sayap mengkerut. Dia tidak pernah bisa terbang.

Yang tidak dimengerti dari kebaikan dan ketergesaan orang tersebut adalah bahwa kepompong yang menghambat dan perjuangan yang dibutuhkan kupu-kupu untuk melewati lubang kecil adalah jalan Tuhan untuk memaksa cairan dari tubuh kupu-kupu itu ke dalam sayap-sayapnya sedemikian sehingga dia akan siap terbang begitu dia memperoleh kebebasan dari kepompong tersebut.

(continue reading…)

4 Comments :, , more...

Looking for something?

Use the form below to search the site:

Still not finding what you're looking for? Drop a comment on a post or contact us so we can take care of it!