Yusran Adhitya Kurniawan’s Blog

Story Life

Mandikanlah Aku IBU

by on Mar.25, 2010, under Story Life

Kasih Sayang Ibusering kali orang tidak mensyukuri apa yang dimilikinya sampai akhirnya…

Rani, sebut saja begitu namanya, terpuruk dalam sebuah penyesalan yang dalam.

Rani adalah perempuan berotak cemerlang dan  memiliki idealisme tinggi. Sejak masuk kampus, sikap dan konsep dirinya  sudah jelas: meraih yang terbaik, di bidang akademis maupun profesi yang  akan digelutinya. “Why not the best”, katanya selalu, mengutip seorang  mantan presiden Amerika. Ketika Universitas mengirim mahasiswa untuk studi Hukum Internasional di  Universiteit Utrecht, Belanda, Rani termasuk salah satunya. Saya sendiri lebih memilih merampungkan kuliah di fakultas kedokteran. Berikutnya, Rani mendapat  pendamping yang ''selevel''; sama-sama berprestasi, meski berbeda  profesi.  Alifya, buah cinta mereka, lahir ketika Rani diangkat sebagai staf  diplomat, bertepatan dengan tuntasnya suami dia meraih PhD. Lengkaplah  kebahagiaan mereka.  Konon, nama putera mereka itu diambil dari huruf pertama hijaiyah  ''alif'' dan huruf terakhir ''ya'', jadilah nama yang enak didengar:  Alifya. Saya tak sempat mengira, apa mereka bermaksud menjadikannya  sebagai anak yang pertama dan terakhir.

Ketika Alif, panggilan puteranya itu, berusia 6 bulan, kesibukan Rani  semakin menggila. Bak garuda, nyaris tiap hari ia terbang dari satu kota  ke kota lain, dan dari satu negara ke negara lain. Setulusnya saya  pernah bertanya, ''Tidakkah si Alif terlalu kecil untuk  ditinggal-tinggal?''

Dengan sigap Rani menjawab, ''Oh, saya sudah  mengantisipasi segala sesuatunya. Everything is OK!'' Ucapannya itu  betul-betul ia buktikan. Perawatan dan perhatian anaknya, ditangani  secara profesional oleh baby sitter mahal. Rani tinggal mengontrol  jadwal Alif lewat telepon. Alif tumbuh menjadi anak yang tampak lincah,  cerdas dan gampang mengerti. Kakek-neneknya selalu memompakan kebanggaan  kepada cucu semata wayang itu, tentang kehebatan ibu-bapaknya. Tentang  gelar dan nama besar, tentang naik pesawat terbang, dan uang yang  banyak. ''Contohlah ayah-bunda Alif, kalau Alif besar nanti.'' Begitu  selalu nenek Alif, ibunya Rani, berpesan di akhir dongeng menjelang  tidurnya.

Ketika Alif berusia 3 tahun, Rani bercerita kalau dia minta adik.  Terkejut dengan permintaan tak terduga itu, Rani dan suaminya kembali  menagih pengertian anaknya. Kesibukan mereka belum memungkinkan untuk  menghadirkan seorang adik buat Alif. Lagi-lagi bocah kecil ini  ''memahami'' orang tuanya. Buktinya, kata Rani, ia tak lagi merengek  minta adik. Alif, tampaknya mewarisi karakter ibunya yang bukan  perengek. Meski kedua orangtuanya kerap pulang larut, ia jarang sekali  ngambek. Bahkan, tutur Rani, Alif selalu menyambut kedatangannya dengan  penuh ceria. Maka, Rani menyapanya ''malaikat kecilku''.

Sungguh keluarga yang bahagia, pikir saya. Meski kedua orangtuanya super  sibuk, Alif tetap tumbuh penuh cinta. Diam-diam, saya iri pada keluarga  ini.  Suatu hari, menjelang Rani berangkat ke kantor, entah mengapa Alif  menolak dimandikan baby sitter. ''Alif ingin Bunda mandikan,'' ujarnya  penuh harap. Karuan saja Rani, yang detik ke detik waktunya sangat diperhitungkan, gusar. Ia menampik permintaan Alif sambil tetap gesit  berdandan dan mempersiapkan keperluan kantornya. Suaminya pun turut  membujuk Alif agar mau mandi dengan Tante Mien, baby sitter-nya.  Lagi-lagi, Alif dengan pengertian menurut, meski  wajahnya cemberut. Peristiwa ini berulang sampai hampir sepekan. ''Bunda, mandikan aku !''  kian lama suara Alif penuh tekanan. Toh, Rani dan suaminya berpikir,  mungkin itu karena Alif sedang dalam masa pra-sekolah, jadinya agak  lebih minta perhatian. Setelah dibujuk-bujuk, akhirnya Alif bisa  ditinggal juga.

Sampai suatu sore, saya dikejutkan telponnya Mien, sang baby sitter.  ''Bu dokter, Alif demam dan kejang-kejang. Sekarang di Emergency.''  Setengah terbang, saya ngebut ke UGD. But it was too late. Allah swt  sudah punya rencana lain. Alif, si malaikat kecil, keburu dipanggil  pulang oleh-Nya.  Rani, ketika diberi tahu soal Alif, sedang meresmikan kantor barunya. Ia  shock berat. Setibanya di rumah, satu-satunya keinginan dia adalah memandikan putranya. Setelah pekan lalu Alif mulai menuntut, Rani memang  menyimpan komitmen untuk suatu saat memandikan anaknya sendiri.  Dan siang itu, janji Rani terwujud, meski setelah; tubuh si kecil  terbaring kaku. ''Ini Bunda Lif, Bunda mandikan Alif,'' ucapnya lirih,  di tengah jamaah yang sunyi. Satu persatu rekan Rani menyingkir dari  sampingnya, berusaha menyembunyikan tangis.

Ketika tanah merah telah mengubur jasad si kecil, kami masih berdiri  mematung di sisi pusara. Berkali-kali Rani, sahabatku yang tegar itu,  berkata, ''Ini sudah takdir, ya kan. Sama saja, aku di sebelahnya  ataupun di seberang lautan, kalau sudah saatnya, ya dia pergi juga  kan?'' Saya diam saja. Rasanya Rani memang tak perlu hiburan dari orang  lain. Suaminya mematung seperti tak bernyawa. Wajahnya pias, tatapannya  kosong. ''Ini konsekuensi sebuah pilihan,'' lanjut Rani, tetap mencoba  tegar dan kuat. Hening sejenak.

Angin senja meniupkan aroma bunga kamboja. Tiba-tiba Rani berlutut.  ''Aku ibunyaaa!'' serunya histeris, lantas tergugu hebat. Rasanya baru  kali ini saya menyaksikan Rani menangis, lebih-lebih tangisan yang  meledak. ''Bangunlah Lif, Bunda mau mandikan Alif. Beri kesempatan Bunda sekali saja Lif. Sekali saja, Aliiif..'' Rani merintih mengiba-iba.  Detik berikutnya, ia menubruk pusara dan tertelungkup di atasnya. Air  matanya membanjiri tanah merah yang menaungi jasad Alif. Senja pun makin  tua. Nasi sudah menjadi bubur, sesal tidak lagi menolong.  Hal yang nampaknya sepele sering kali menimbulkan sesal dan kehilangan  yang amat sangat. Sering kali orang sibuk 'di luaran', asik dengan  dunianya dan ambisinya sendiri tidak mengabaikan orang – orang di dekatnya  yang disayanginya. Akan masih ada waktu 'nanti' buat mereka jadi  abaikan saja dulu.  Sering kali orang takabur dan merasa yakin bahwa pengertian dan kasih sayang yang diterimanya tidak akan hilang. Merasa mereka akan mengerti  karena mereka menyayanginya dan tetap akan ada.

Cerita ini ana dapat dari seorang akhwan zidna.syukron katsiran..

2 Comments :, more...

Looking for something?

Use the form below to search the site:

Still not finding what you're looking for? Drop a comment on a post or contact us so we can take care of it!