Yusran Adhitya Kurniawan’s Blog

Tag: Love

BASED ON D’FACT:ISYARAT TAK TERARTIKAN

by on Apr.18, 2010, under Story Life

isyarat“Teng…teng…teng…teng!!!”, kicauan velg mobil usang di ujung deretan kelas X menghambur kesetiap sudut sekolah, membuat gendang telinga para belia bergetar, menyemburkan kelegaan seraya menderukan hasrat pada detik-detik berikutnya yang penuh imajinasi, kebahagiaan dan harapan. Itulah bunyi kebebasan dari tirani pelajaran dengan jeruji otak pas-pasan. Membubarkan semua siswa, bak merpati dilepas dari sangkarnya.
Hingar semua oleh nyanyian lantai koridor yang diinjaki langkah penuh semangat. Bingar semua oleh beribu kata tentang guru killer, PR matematika, teman sebangku yang ketahuan tidur di kelas, penghapus whiteboard yang melayang ke udara, rencana penembakan, PDKT, gebetan baru, phitagoras, reproduksi, dan semacamnya. Mimpi-mimpi sekali seumur hidup, mengharuskan pemimpinya tidur selamanya.
Diantara peluh dan asap yang seakan mengepul di atas kepala yang tak sanggup lagi berfikir, diantara atmosfir Mars yang hadir dari ketiak-ketiak basah, mataku menyajikan fatamorgana dari tautan pandang antara aku dan peri di depan sana. Tapi kurasa bukan. Tak ada peri berseragam putih abu-abu, secantik itu pula. Juga bukan fatamorgana tanpa padang pasir. Ribuan kata ia bahasakan sengatan jutaan volt, menghentikan degupan jantungku kemudian membuatnya sejuta kali lebih cepat.
Isyarat itu lagi. Aku mengenalnya. Tapi kali ini tak seperti biasanya. Mimiknya pilu, merusak lengkungan merah jambu yang biasanya menghiasi rona ayu nan putih yang sanggup mensucikan setiap hati yang menatapnya, namun kini layu. Buih embun dari sela-sela kesejukan matanya mencair, hampir bergelantungan diantara lentiknya bulu mata yang memayungi kelopak sepasang rembulan.
Jantung ini seakan mengkerut. Seketika aku terenyuh dan bimbang. Sungguh, waktu pun terhenti, melayangkan fikiranku pada apa? Siapa? Dan mengapa? Kalau memang benar tempat itu yang ia bahasakan, maka mengapa baru sekarang ia membukanya. Mengapa tak sedari dulu ketika aku selalu berharap, ketika sering membuatku tak selera makan, ketika harus melewati malam dengan rindu yang menghunus, membuatku menggigil, menderita dan kadang harus kecewa. Mengapa bukan saat itu, ketika ruang itu masih kosong dan aku pun masih hampa. Mengapa baru kini, setelah ruang itu terisi seperti yang kudengar dari sahabatnya. Mengapa baru kini, setelah aku mati oleh rindu yang menjalar ke sel-sel tubuhku yang tak mau aku mengobatinya karena takut sembuh kemudian mati rasa. Lebih baik aku mati.
(continue reading…)

2 Comments :, , more...

Based on D’True Story : HARTA VS CINTA

by on Mar.27, 2010, under Story Life

jam1

“Cit cuit…cit cuit! Kik kuk! Kik kuk!”

Suara itu memekakan telingaku hingga aku terpaksa terbang dari kerajaan mimpi tidur siangku. Ku buka kelopak mata yang berat ini perlahan. Lalu kupicingkan pandangan pada jam beker warna kuning berbentuk burung di atas meja belajar. Hanya suaranya yang keras dan khas yang mempan untuk telingaku. Sudah tiga tahun ia setia membangunkanku, mengingatkan jadwal kuliah, janji-janji yang (sepertinya) penting, dan praktikum siang ini. Ya, sekarang aku ingat jam tiga ada praktikum fisiologi. Jarum pendeknya menunjuk hampir ke angka tiga dan jarum panjangnya tepat ke angka enam.

”Hah, 14.30!”

Aku terperanjat. Cepat kumatikan bekerku. Ia seakan tertawa dan mengejek ku.

”Ha…ha…ha…Kamu terlambat lagi Rangga!”

Aku coba bangkit dari pembaringanku yang sudah dua jam ku arungi. Tapi tubuh ini serasa lengket dengan kasur. Berat sekali. Kalau bukan karena para asisten yang killer dan peraturan yang ketat, aku lebih memilih meneruskan tidur siangku atau taking relax membaca novel sambil ngemil. Daripada harus keluar kost-an disiang yang panas ini. Lebih panas dari biasanya.

”Wah, kalau makan sup buahnya bu Rini enak banget nih. Hmmm…segerrr!”

Tapi apa boleh buat, lebih baik aku segera mandi biar segar, terus berangkat. Oh iya, aku punya rencana khusus siang ini. Berangkat bareng Novi. Sudah berkali-kali aku mengajaknya berangkat bareng, tapi selalu gagal. Pertengkaran lecil sehabis kuliah tadi pagi membuatku geram. Ajakanku untuk pulang bareng ia tolak mentah-mentah. Gara-garanya si Blacky, motor bebek item kesayanganku yang bututnya minta ampun. Nono lebih memilih pulang bareng Aldo, sama-sama anak kedokteran tapi dia angkatan 2004 sedang aku dan Nono angkatan 2005. tam[angnya sih biasa saja, tapi motor racing-nya bisa bikin cewek sekampus ngiler ingin menclok. Apalagi yang matre seperti Nono. Setahuku Aldo sering dekat dengan beberapa cewek, tapi tak satu pun yang jadi pacarnya, tak tahu kenapa.

Nono memang matre abis. Nono adalah panggilan sayangku untuk Novi. Memang nama itu tak lazim bagi seorang perempuan. Itu merupakan ejekan yang kreatif. Dia akan merasa malu kalau ku panggil begitu. Aku tahu panggilan itu secara tidak sengaja saat aku berkunjung ke kost-annya Nono untuk mengerjakan tugas kelompok. Semua teman kost-nya memanggilnya begitu. Dan mungkin selamanya aku akan memanggilnya begitu.

Entah apa yang menarik dari gadis mungil asal kota Cirebon itu. Semua sifat yang aku benci ada padanya. Matrealistis, sombong, pemarah, korban mode, cerewet, manja, malas, dan sepertinya (aku yakin) dia tidak bisa masak. Tipe isteri paling buruk sejagat raya. Malang benar lelaki yang jadi suaminya. Tapi aku akui parasnya memang cantik, lucu, dan imut-imut, mesikpun kalau marah bisa jadi sangat menyeramkan.

Hubunganku dengan Nono cukup aneh dan unik. Secara samar-samar aku suka dia. Tapi sifatnya, terutama matre-nya itu, sering membuatku sebal dan jengkel. Dan sialnya lagi, kita satu kelas. Kadang aku berfikir, mengapa Tuhan menciptakan perempuan seperti dia? Dan kenapa kita harus bertemu di dunia yang luas ini? Aku memang benci dengan sifatnya, tapi entah kenapa aku bahagia jika dekat dengannya, dan senang jika bercanda dengannya. Kita juga sering bicara dari hati ke hati, saling curhat dan diakhiri dengan candaan mesra khas Rangga.

Awalnya hubungan kita biasa saja. Tapi karena aku sering menggodanya, teman-teman sekampus menyangka kalau aku punya perasaan khusus padanya. Dan tak jarang mereka bergosip yang tidak-tidak tentang hubunganku dengan Nono. Mungkin karena itulah Nono sebal padaku. Dan kita sering terlibat pertangkaran-pertengkaran kecil. Terutama masalah materialisime.

(continue reading…)

Leave a Comment :, , more...

Looking for something?

Use the form below to search the site:

Still not finding what you're looking for? Drop a comment on a post or contact us so we can take care of it!