Nesospolitan
Shape my words to shape our city – Zulfika Satria's Blog
Hidup di Desa Bukan Hidup di Alam Bebas
Categories: Cerita
Salah Satu Proyek Pembangunan Desa

Salah Satu Proyek Pembangunan Desa

Mulai bulan Januari hingga Februari kemaren, saya dan teman-teman dari semua fakultas di Universitas Diponegoro melakukan KKN (Kuliah Kerja Nyata) di beberapa daerah di Jawa Tengah. Untuk tahun 2013 ini jatah daerahnya ada Pekalongan, Kendal, Batang, dan Magelang. Saya beruntung dapat jatah di Kabupaten Pekalongan dan berada di Desa yang paling jauh dari Semarang sekitar 3 jam dengan kecepatan sedang. Saya dan 10 orang teman saya tinggal di Desa Purworejo, Kecamatan Sragi.

Sebenarnya tidak ada yang istimewa dari KKN kali ini. Ya sama dengan KKN sebelum-sebelumnya. Cuman, ini pengalaman pertama saya hidup selama 35 hari di desa bersama masyarakatnya. Hidup dengan segala kesederhanaan masyarakat desa dan kehidupan alamiahnya. Walaupun begitu saya senang karena rumah yang saya tinggali sudah memenuhi kriteria rumah sehat. Rumah sehat apaan yah? Bagi saya ya sudah punya sarana buat “buang hajat” yang layak. Ga sekedar lubang belaka, atau malah2 harus di pinggir selokan atau sungai. Iyuuuuh! :(

“Lah zul, kamu engga pernah emangnya ndaki gunung? Itu kan boker pipis juga di sembarang tempat di alam bebas. Kamu manja deh”

“Hey yeah! Iya kali itu kan alam bebas. Ini permukiman cuy! Tempat hidup, tempat tidur, tempat beraktivitas sehari-hari. Kalo sarana kebersihannya engga oke, padahal kawasan itu udah kita sebagai manusia udah intervensi sebagai “sarang manusia”, ya udah pasti ga sehat dong!”

Bagi saya, sarana mandi-cuci-kakus (MCK) yang sembarangan kayak gitu udah ga bisa lagi ditolerir di sebuah permukiman. Mau dia sepelosok apapun, seharusnya kalau sudah dinobatkan sebagai “permukiman manusia” ya harusnya harus dibangun juga sistem prasarana yang lengkap. Prasarana lengkap itu ya air, jalan, sanitasi, drainase, listrik, komunikasi, dan persampahan (disebut 7 prasarana dasar).

Sedihnya juga saya saat tinggal di desa adalah tidak adanya pengelolaan sampah di desa. Sampah kebanyakan dibuang sembarangan, ditumpuk di depan pekarangan, atau kalo udah penuh ya dibakar. Tapi emang makan buah simalakama banget. Ngerasain waktu saya dan teman-teman sedang memasak besar untuk kepentingan program pokok KKN, waktu selesai saya kebagian buang sisa sampahnya yang besarnya 2 kantong plastik besar. Saya cuman celingak-celinguk aja “ini mau ditarok di mana ya?”. Waktu saya tanya sama yang punya rumah, mereka cuma bilang “buang saja di selokan atau taro di depan pekarangan” OMG, sedih banget beneran :(

Rumah sehat yang saya tinggali ini adalah rumahnya Ibu Rin, yang baik hati sudah masakin saya dan teman-teman tiap hari plus mengizinkan kami tidur dan beribut-ribut ria di rumahnya setiap hari. Rumah sehat selain sudah ada sarana MCK, juga terjangkau sinyal hape, proporsi RTH halaman yang pas, di depannya ada drainase, dan okelah bisa ngelola sampah dengan dibakar (walaupun ini bukan pengelolaan yang baik-sama-sekali….)

Pemandangan kurangnya sarana-prasarana ini kemudian menyadarkan saya: ekonomi bukanlah segala-galanya. Dengan penghasilan desa yang pas-pasan tapi sudah tersedia 7 prasarana sehat yang layak, menurut saya itulah sebuah permukiman manusia sesungguhnya. Selama ini pembangunan seringkali berfokus bagaimana cara meningkatkan perekonomian daerah. Jadi konsennya ya penyediaan modal usaha saja, sebut saja PNPM. Tapi untuk fasilitas MCK atau pengelolaan sampah? Rasa-rasanya itu jadi nomer sekian-sekian untuk diprioritaskan untuk diwujudkan.

Andai punya uang banyak, ingin rasanya membangunkan fasilitas umum mendasar tadi bagi masyarakat perdesaan. Agar mereka juga teredukasi untuk tidak serela itu buang air di sungai atau di pinggir sawah. Desa dan kota itu sebenarnya secara definisi hanya berbeda dominasi fungsi guna lahannya. Kalau desa mayoritas pertanian, sedangkan kota mayoritas non pertanian (perkantoran, perindustrian, dll). Kalau tentang cara berumah dan bertempat tinggal mendasar, sudah selayaknya lah disamakan. Sampah ya dikelola, air bersih dan listrik ya dialirkan, jalan ya dibangun mulus, drainase ya dibangun, buang air yang ada sarananya, semua dibangun dengan standar kelayakan yang ada.

Hidup di desa tidaklah sama dengan hidup di alam bebas…

Tags:, ,

1 Comment to “Hidup di Desa Bukan Hidup di Alam Bebas”

  1. wisgiantiarno says:

    yap betul sekali mas di desa saya blm ada penanganan yang maksimal di semua bidang apa lagi jalanannya?sedih sekali saya kl pulang kampung…

Leave a Reply

Before you post, please prove you are sentient.

what is 7 + 3?