Nesospolitan
Shape my words to shape our city – Zulfika Satria's Blog
Kuliah Lapangan ke Thailand (1): Airport Terbaik hingga Kota Rekayasa
Categories: Jalan-jalan, review

Tahun 2012 lalu (dan kini hampir setahun berlalu hehe) alhamdulillah saya berkesempatan mengunjungi negeri gajah putih alias Thailand dalam kegiatan Kuliah Kerja Lapangan alias KKL. Sebenarnya saya ingin menulis ini selain ingin menceritakan pengalaman saya, kepikiran juga dengan adik kelas yang akan KKL ke Thailand tahun ini. Jadi ingin berbagi cerita-cerita dan tips ttg apa yang ada di Thailand (biar ga buta banget dan semoga setelah tahu semakin semangat ke sana). Jujur saya senang sekali bisa ke Thailand dan kepengen lagi ke sana. Bukan, bukan karena saya ga cinta Indonesia loh! Tapi justru kita jadi bisa tahu kondisi positif-negatif Indonesia dibanding negara lain.

Ya udah kepanjangan pembukaannya, mari kita mulai bahas saja tentang Thailand! Please fasten your seatbelt!

Thailand? Negara apa ya itu?

Berbicara tentang Thailand berarti kita berbicara tentang kawasan Indochina. Thailand memang terkenal sebagai pintu gerbang negara-negara Indochina (Vietnam, Kamboja, Myanmar) dan China Selatan. Negeri yang sering dijuluki Negeri Gajah Putih ini memiliki 76 Provinsi (iya ga salah baca, memang ada 76!) dengan perekonomian utama seperti di Indonesia yaitu pertanian seperti di Chiang Mai, Chiang Rai, Ayutthaya, Nakhon Pathom, dan lain-lain).

Lokasi Thailand di ASEAN

Negara Thailand memiliki nama asli “Muang Thai” yang artinya adalah Tanah Merdeka. Ini karena Thailand adalah satu-satunya negara di ASEAN yang tidak pernah dijajah negara mana pun. Thailand kini dipimpin oleh Raja Bhumibol Adulyadej atau Raja Rama IX yang merupakan raja kesembilan dari Dinasti Chakri.

Thailand sangat mengembangkan daya saing internasionalnya di bidang pariwisata, industri, industri kreatif, hingga jasa-jasa. Salah satu bukti obsesi Thailand dalam meningkatkan daya saing ini adalah dengan dibangunnya Bandara Suvarnabhumi yang pada tahun 2011 menjadi bandara dengan peringkat ke-10 terbaik di dunia (Survei SKYTRAX, 2011).

KKL ke Thailand yang saya lakukan ini sebenarnya membawa manfaat yang sangat banyak. Selain dapat mendapatkan kuliah langsung dengan dosen Universitas Thammasat, kita dapat melihat langsung segala hal yang pada awalnya hanya menjadi penjelasan-penjelasan saja di perkuliahan. Dalam KKL ini mahasiswa dituntut untuk bisa mengelilingi kota-kota di Thailand (Pattaya, Bangkok, dan Ayutthaya) sambil melakukan pengamatan dalam penataan kota maupun aktivitas warganya yang dapat dijadikan lesson learn di Indonesia. Tujuan utamanya adalah mahasiswa sebagai calon perencana dapat mengambil nilai-nilai positif untuk dapat diseleksi lagi kemudian diterapkan di sistem perencanaan Indonesia.

Rombongan KKL pada waktu itu dipandu oleh pemandu wisata lokal bernama Sophon (Thai: โสภณ). Pemandu wisata di Thailand sudah sangat dipersiapkan untuk melayani turis dari berbagai negara. Sophon mampu berbahasa Indonesia dengan cukup lancar. Kita diajarkan berbagai macam hal unik tentang Thailand. Seperti contohnya bahasa sapaan Thailand untuk selamat datang adalah “sawadikaa” (diucapkan oleh wanita) dan “sawadikaap” (diucapkan oleh pria). Ucapan selamat datang ini juga besifat universal yang dapat diucapkan di berbagai waktu baik itu pagi hingga malam. Untuk terima kasih, perlu untuk mengucapkan “kopunka” atau “kopunkap”. Perbedaan penuturan untuk pria dan wanita adalah pada penuturan akhir katanya. Apabila wanita cenderung berakhir dengan mulut terbuka, sedangkan pria berakhir dengan mulut tertutup.

Ini Sophon sang pemandu

Jadi, kira-kira lesson learned apa saja yang saya dapatkan dari sana?

Mendarat di Pintu Gerbang Thailand

Thailand benar-benar mempersiapkan pintu masuk negaranya dengan sangat istimewa. Ibarat bertamu, para tamu ini benar-benar disambut di ruang tamu yang sangat megah dan sangat menyamankan para tamunya. Ya itu semua ada di bandara Suvarnabhumi, bandara terbaik dunia tahun 2011. Selain arsitekturnya yang megah, segala fasilitas turis tersedia lengkap dan nyaman mulai dari informasi, peta kota & brosur gratis, fasilitas bandara yang canggih, free wifi, dan pelayanan kedatangan dan keberangkatan yang nyaman dan lancar. hampir di seluruh interiornya dihiasi dengan kebudayaan Thailand seperti patung-patung khasnya jadi terlihat identitas bandara ini kalau punya Thailand.

Bandara Suvarnabhumi yang Penuh Nuansa Budaya Thailand

“Ah payah, Indonesia kalah nih bandara Soetta apaan kalah jauuuuh!”

Teman saya, Lupita, pernah menyatakan sesuatu hal kalau sebenarnya tidak adil membandingkan Bandara Suvarnabhumi ini dengan Bandara Soekarno Hatta di Indonesia. Mengapa begitu? Karena bandara Thailand ini merupakan bandara baru sedangkan bandara Soetta adalah bandara yang sudah berumur cukup tua. Kalau dipikir-pikir benar juga. Namun, kita bisa mengambil sisi positif dari bagaimana sistem pelayanan sebuah airport international yang baik dari Thailand.

Kunjungan ke Kota Pattaya, Sebuah “Kota Rekayasa” Thailand

Perjalanan Bangkok (dari bandara Suvarnabhumi)– Pattaya menempuh waktu sekitar 1.5 jam (kecepatan rata-rata 80 – 100 km/jam). Perjalanan menggunakan bus dilakukan dengan melewati jalur bebas hambatan. Jalur bebas hambatan di Thailand dapat dikatakan sangat baik apabila dibanding jalan bebas hambatan (atau jalan tol) di Indonesia. Kenapa gitu? Alasannya karena penggunaan lajur di Thailand yang sangat banyak untuk satu jalur hingga 4 lajur. Jalan ini juga tidak terputus sama sekali dengan jarak sekitar 115.2 km. Bahkan untuk mengefektifkan lahan, pembangunan jalan tol ini menggunakan sistem jalan layang yang dibangun tepat di atas jalan raya. Apabila dibanding dengan Indonesia, jalan tol penghubung kota besar kiniyang terjauh adalah Jakarta – Bandung dengan panjang rata-rata sekitar 146 km. Akan tetapi, jalan tol ini secara kapasitas sudah tidak mampu menampung kapasitas karena seringkali macet.  Jalan tol ini juga mayoritas menggunakan ground highway sehingga memakan guna lahan di bawahnya.

Jalan Tol di Thailand

Perjalanan di Pattaya dimulai dengan kunjungan pertama ke Pattaya Floating Market. Sebenarnya tidak ada yang istimewa di tempat ini. Dikatakan demikian karena seluruh konstruksi dan kondisi dari pasar ini hanyalah buatan manusia. Floating market ini terletak di sebuah kolam buatan yang kemudian dibangun pondok-pondok di atasnya sehingga terkesan pasar ini mengapung di atas air. Walaupun begitu jangan ditanya tentang banyaknya turis, ramai sekali. Turis-turis mancanegara kebanyakan berasal dari China dan beberapa negara Asia lainnya. Wisata belanja seperti ini memang favorit bagi orang Asia. Bagaimana pun juga floating market ini harus diapresiasi karena merupakan upaya Pemerintah Thailand untuk meningkatkan sektor pariwisata di Pattaya.

Pasar Terapung Buatan yang ramai sekali

Pasar Terapung Buatan yang ramai sekali

Melihat suasana kota Pattaya seperti melihat nuansa perkotaan di Kuta, Bali. Wajar karena keduanya sama-sama kota pantai. Di sepanjang jalan pun juga banyak toko-toko layaknya di Kuta baik dari level lokal hingga level internasional. Brand terkenal seperti Hard Rock, Tesco, McDonalds, dll ada juga di Pattaya. Sejujurnya dari segi keindahan alam dan pantai, Pattaya kurang memiliki daya tarik. Pantainya tidak berombak kencang dan airnya juga tidak biru laut. Apabila dibandingkan dengan pantai-pantai di Bali atau Indonesia kelihatannya pantai di Indonesia jauh lebih indah!

Kota Pattaya dilihat dari ketinggian

Sisi lebih yang bisa diamati dari pantai Pattaya adalah pengelolaannya dan penataannya yang sangat baik. Pantai ini berkembang layaknya “from hero to zero”. Pemerintah Thailand sepertinya sengaja memberikan berbagai macam atraksi di Pattaya ini agar berkembang meskipun dengan keindahan pantai yang terbatas. Kondisi pantai juga dijaga kebersihannya dan dibangun juga area-area pedestrian yang luas dan nyaman agar para turis dapat menikmati kawasan ini dengan nyaman.

Satu hal yang menarik dari Thailand di bidang prasana adalah terutama di prasarana listrik. Kabel-kabel listrik dipajang begitu penuh dan terkesan kacau. Seram apabila dilihat dan membayangkan kabel tersebut putus.

Tell me what is something weird seen in this picture! :D

Salah satu atraksi yang paling terkenal di Pattaya tentu saja adalah pertunjukan kabaret banci. Di Pattaya banyak sekali transgender yang sukses berkarir di sini. Saking banyaknya transgender di kota ini, sampai terdapat rumah sakit yang khusus untuk operasi kelamin dari laki-laki menjadi wanita! Pertunjukkan kabaret ini dimulai pukul 18.30 dengan durasi sekitar 1 jam. Pertunjukkan cukup menarik dan menghibur. Di akhir sesi pertunjukan, para banci yang melakukan pementasan tadi melakukan sesi foto bersama bagi yang berminat dengan memberikan tip. Bagi wisatawan asing, biasanya sesi ini yang paling ditunggu-tunggu karena ingin membuktikan dan memamerkan kecantikan dari para banci khas Pattaya ini.

Kabaret Banci

Cewe apa cowo nih?

Aktivitas perkotaan di Pattaya pada malam hari sangat hidup bahkan lebih hidup dibanding siang hari. Maka tak heran apabila banyak “wisata-wisata malam” di Thailand. Pemerintah Thailand juga melegalkan kegiatan-kegiatan ini di Pattaya dengan batasan umur tentunya. Ssstt… kalian perlu tahu bahkan di sebuah buku semacam Yellow Pages di hotel banyak terpampang iklan “Hot & Spicy” dengan latar wanita sexy dan iklan ini dilegalkan lo! Oleh karena itu, orang baik-baik biasanya tidak menyarankan untuk pergi ke Pattaya karena kultur wisata malam yang sudah sangat melekat tersebut.

(sok) ngegaul malam di Pattaya

(sok) ngegaul malam di Pattaya

(bersambung…..)

Agar tidak menjenuhkan, saya berkeinginan memecah tulisan ini menjadi beberapa bagian. Berikutnya saya akan menceritakan wisata wajib di Pattaya, Bangkok, dan Ayutthaya serta cerita tentang kegiatan inti di Thailand yaitu kunjungan ke Thammasat University dan kuliah bersama di sana :D

Leave a Reply

Before you post, please prove you are sentient.

What is 6 multiplied by 2?