Nesospolitan
Shape my words to shape our city – Zulfika Satria's Blog
Mengapa saya suka 50/50?
Categories: Cerita, review

 

Official Poster

Waspada! Ini bisa jadi spoiler atau bocoran bagi kamu yang belum nonton!

Sebuah film yang dimainkan Joseph Gordon-Levitt (sebagai Adam Lerner) ini mengkisahkan tentang seorang pemuda biasa berumur 27 tahun yang divonis mengidap kanker tulang belakang. Isi filmnya berkisar tentang bagaimana si tokoh utama Adam Lerner menghadapi masa-masa kritisnya menghadapi penyakit kankernya yang semakin parah mulai dari masalah keluarga, percintaan, persahabatan, dan psikologis dirinya.

Saya suka sekali dengan film ini. Mengapa? Secara umum, saya suka karena kejadian dalam film ini tidak mengada-ngada. Nah sesuai judulnya, ada beberapa adegan/perihal menarik yang saya sukai, seperti di bawah ini (udah berasa kayak acara On The Spot yah hehehe….)

ADAM LERNER BUKAN SEORANG PEROKOK ATAU PEMABUK

Saya merasa terhenyuh saat dokter memvonisnya terkena kanker schwannoma neurofibrosarcoma atau semacam ada tumor di tulang belakangnya. Adam langsung tidak percaya dan bilang ke dokternya “Anda yakin? Maksud saya, saya gak pernah merokok dan gak pernah minum alkohol. Bagaimana bisa?”. Bayangkan saja, dia masih muda, 27 tahun, dan ga pernah melakukan hal yang aneh-aneh. Namanya penyakit emang ga pilih-pilih sih. Saya jadi berpikir tidak adil saat ada orang yang hobi banget ngerusak tubuhnya dengan merokok dan minum-minum alkohol tapi badannya selalu sehat-sehat.

KARAKTER IBUNYA MIRIP IBU SAYA

Ibu si Adam ini orangnya yang sayang keluarga dan pekerja keras. Dia memberikan kebebasan untuk Adam, tapi begitu tahu ada masalah dia ingin mengambil alih semuanya. Ya mirip seperti karakter ibu saya. Lebih-lebih lagi sang ibu ini sangat tegar mengingat dia juga harus merawat suaminya (sekaligus pastinya ayah si Adam) yang sakit Alzheimer. Bayangin aja betapa hancur hati seorang ibu begitu dia menerima cobaan di mana-mana. Tapi, itu semua sama sekali ga menjatuhkan fisik dan mental si ibu. Si ibu dalam film ini tetap cantik, tegar, dan sama sekali tidak menyerah pada keadaan. Adegan yang paling bikin saya sampai nangis adalah saat Adam akhirnya harus dioperasi dan sebelumnya menyampaikan sayangnya pada ibunya kemudian berpelukan :'(

PUNYA SAHABAT YANG SETIA

Sahabat yang setia dalam film? Udah biasa. Tapi si Kyle yang sahabat Adam sekaligus partner di kantor sebuah radio ini selalu membawa si Adam dalam nuansa yang “gila”. Dia selalu membawa humor dan terkesan “memanfaatkan” penyakit sahabatnya ini untuk memperoleh cewek. Ternyata itu semua cuma penampilan luar aja karena si Kyle tyt diam-diam membeli buku “How To Face Cancer Together” dan bener-bener meng-highlight apa yang seharusnya dilakukan dengan coretan di berbagai kalimat penting. Entah kenapa saya merasa persahabatan ini juga bukan persahabatan yang lebay. Ketulusan persahabatannya benar-benar kerasa banget.

KANKER MEMPERTEMUKAN PADA SAHABAT BARU DAN PELAJARAN BARU

film ini kalo berdasarkan IMDB masuk dalam genre drama comedy. Jadi film ini memang berisikan nilai-nilai kehidupan dan disajikan dengan nuansa yang santai dan lucu. Karena sakit kankernya, Adam harus dikemo. Saat kemo dia bertemu dengan teman-teman yang sudah berusia tua (sesuai pemahaman kita kan, kalo sakit kanker, diabetes, stroke, dll adalah penyakit orang tua) yang punya pengalaman masing-masing. Adam (dan juga penonton) pun bisa mempelajari kehidupan bahwa sakit bukanlah momen untuk bersedih.

BUKAN FILM OVERDRAMATIC

Film ini memang film drama yang sedih dan mengharukan, tapi tidak disajikan dengan mewek-mewek. Semua adegannya dimainkan dengan suasana layaknya kehidupan sehari-hari. Bingung juga gimana jelasinnya ya? hehe intinya kalo kamu lihat film ini (menurut saya) tidak ada adegan yang dilebay-lebaykan untuk menghasilkan kesedihan. Beberapa kali bahkan ditampilkan nuansa humor. Nuansa haru biru muncul dengan sendirinya kalo kamu mengerti film ini.

Saking saya sukanya sama film ini, sekarang saya udah nonton filmnya sampai 3x dan tetep merasa terharu dengan jalan ceritanya. Tujuan saya bikin postingan ini selain mungkin memberi sedikit review, sekalian menjelaskan ke temen-temen kenapa saya terlalu memfavoritkan film yang menurut beberapa teman mungkin “biasa aja ah!”, “ga sedih-sedih amat zul!”, dll. Ada beberapa poin subjektif yang memang saya tekankan di film ini hehehe…

Bagi yang belum nonton, silakan segera coba ditonton film ini. Rating IMDB 7.8/10 dan di Rotten Tomatoes 93% fresh, jadi apa yang perlu diragukan lagi dari kualitasnya? Ga salah kan saya ngefans berat sama film ini hehehe….

2 Comments to “Mengapa saya suka 50/50?”

  1. fina ladiba says:

    Aih. Mau nonton ah! ( ‘0’)9

  2. Zulfika Satria says:

    Ayo-ayo ditonton! Filmnya okeh bangeeet fiin hehe

Leave a Reply

Before you post, please prove you are sentient.

what is 2 in addition to 8?