Nesospolitan
Shape my words to shape our city – Zulfika Satria's Blog
Jalan-jalan Ke Luar Negeri
Categories: Cerita, Jalan-jalan

Sebenarnya postingan saya ini awalnya terinspirasi dari wacana di perkuliahan saya untuk melakukan Kuliah Kerja Lapangan (KKL). Jadi di jurusan saya, KKL itu ibaratnya jalan2 berkedok studi :p Ya memang bener ko tidak 100% murni bersenang-senang denganĀ  jalan-jalan. Harus ada suatu studi atau pembelajaran yang didapat di dalamnya.

Nah, perdebatan muncul saat kami ditanyakan oleh pihak jurusan “Mau KKL di dalam negeri atau ke luar negeri?”. Kalau di dalam negeri kelebihan tentu yang pasti biayanya lebih murah, ga perlu pusing mikirin paspor dan kurs. Lain halnya kalau pilih ke luar negeri, segala persiapan harus dipikirkan jauh-jauh hari sekali biar ga mahal, mulai dari tiket, paspor, uang saku sesuai kurs negara tujuan, dsb. Ribet! Akan tetapi, bagaimanapun juga saya lebih setuju kalau KKL (yang di jurusan saya bertujuan meninjau penataan kota di lokasi tujuan) ini dilakukan di luar negeri.

Loh, kenapa? Ih, kamu ga cinta Indonesia banget sih!

Weits, ini sama sekali ga ada hubungannya dengan ga cinta Indonesia. Saya kurang setuju dengan visi orang yang mengaku nasionalis yang kemudian bercita-cita ingin mengunjungi seluruh kota di dalam negeri dulu daripada harus ke luar negeri. Apalagi ada tuh di salah satu adegan film 5cm di mana sang tokoh Ian batal melanjutkan studi ke Manchester karena kecintaannya sama Indonesia. Yap jangan sekaku itu broh, ke luar negeri itu bukan berarti kita ga nasionalis dan ga cinta Indonesia lagi.

Ada beberapa alasan kenapa saya lebih memilih untuk baiknya melakukan KKL ke luar negeri. Alasan ini sebenarnya bisa juga dianalogikan apabila ada budget mencukupi lebih baik jalan-jalan lah ke luar negeri. Paling tidak bagi yang belum pernah ke luar negeri, cobalah anggarkan biaya untuk minimal sekali ke luar negeri, misal cukup ke Singapura atau Malaysia.

Jadi kenapa harus pernah jalan-jalan ke luar negeri?

Alasan pertama, jalan-jalan ke luar negeri itu membuka wawasan kita tentang posisi kita sebagai orang Indonesia di mata dunia. Saat saya ke Thailand misalnya, saya jadi tahu kalau di negara yang katanya “mirip” perkembangannya dengan Indonesia itu bahkan tidak menerima Rupiah di Money Changer. Itu satu poin saat sebagai orang Indonesia saya merasa miris. Eh tapi jangan salah, saat saya pernah homestay ke Australia, para pelajar dari Indonesia mendapat pujian dari guru saya (yang orang Australia dan orang Irlandia) di sana karena ia menilai dari seluruh pelajar di berbagai dunia orang Indonesia paling cepat bisa belajar bahasa Inggris dan kebudayaan Australia. Guru saya bahkan menceritakan pengalamannya saat susahnya mengajari para pelajar dari Korea. Orang tua angkat (host parents) saya juga mengakui anak Indonesia sopan-sopan.

Guru saya selama di Aussie, namanya Niahm dari Irlandia (Paling kiri)

Alasan kedua, jalan-jalan ke luar negeri dapat membuka cakrawala kita tentang dunia. Siapa yang tahu kalau di London, khususnya saat di eskalator/tangga, semua yang tidak terburu-buru harus berjalan di sebelah kiri karena lajur kanan untuk yang terburu-buru. Semua dilakukan dengan tertib tanpa perlu ada teguran dari aparat. Siapa juga yang tahu kalau produk-produk boneka di London banyak yang “Made in Indonesia”? Lalu apakah banyak yang tahu kalau nama sholat di Turki diterjemahkan ke bahasa Turki (bukan bernama duhur, ashar, maghrib, isya, subuh)? Tentu hal itu akan kita ketahui kalau kita jalan-jalan ke luar negeri. Apapun keadaannya kita pasti akan menemui wawasan baru tentang dunia luar yang tidak kita ketahui di Indonesia.

Boneka Made In Indonesia di London

Alasan ketiga, jalan-jalan ke luar negeri membuat kita berkenalan dengan orang-orang baru. Saat saya ke Malaysia saya mengikuti engineering camp yang pesertanya berasal dari Malaysia, Vietnam, China, dan Indonesia. Saya senang saat itu karena menemukan teman dari Vietnam yang sama-sama kuliah di bidang perencanaan. Manfaatnya terasa setelah beberapa bulan ke depan, saat saya butuh data-data tentang perencanaan kota di Vietnam dengan mudahnya saya tingga mengkontak dia dan menanyakan hal-hal yang ingin saya ketahui. Tapi itu juga buah dari keep contact bukan dateng pas butuh hehe :P

Alasan keempat, jalan-jalan ke luar negeri melatih kemandirian yang lebih dibanding jalan-jalan di dalam negeri. Ke suatu tempat yang bahasanya bukan bahasa ibu kita tentu menjadi tantangan. Di sana kita berlatih beradaptasi dengan dunia baru, dengan budaya baru, dan dengan sistem yang baru. Hasil dari amatan saya, orang-orang yang pernah ke luar negeri (dengan mandiri, bukan tur bareng keluarga) adalah orang-orang yang lebih percaya diri dan energik.

Lalu, setelah jalan-jalan ke luar negeri apakah rasa nasionalisme kita luntur? SAMA SEKALI TIDAK. Namun, itu semua dengan catatan bahwa kita memang cinta Indonesia. Kalau dari awal sudah ga cinta sama negeri sendiri ya lain ceritanya. Dari hasil jalan-jalan ke luar negeri, saya justru merasa rasa nasionalis saya bertambah berkali-kali lipat. Saya jadi merasa tertantang untuk bisa menjadi wakil negara yang tidak malu-maluin. Saat saya ke London mengikuti MUN, saya berperilaku sebaik-baiknya agar peserta-peserta dari negara lain memandang orang Indonesia bisa berbaur dengan mereka dan bisa berkompetisi dengan mereka. Saat saya ditanya saya dari mana saya bangga saja bilang saya dari Indonesia. Kalau tidak tahu ya saya jelaskan Indonesia itu di mana. Itung-itung jadi bantu promosi Indonesia kan? hehe…

Bagaimana kalau ada pendapat jalan-jalan ke luar negeri itu ga memberikan kontribusi ekonomi ke penduduk lokal di Indonesia? Kalau menurut saya pendapat itu bukan pendapat yang diperdebatkan antara “jalan-jalan ke luar negeri” VS “jalan-jalan di dalam negeri”. Keduanya mempunyai tujuan dan dampak yang berbeda. Jalan-jalan ke luar negeri menurut saya mempunyai peran kita sebagai wisatawan sekaligus sebagai delegasi untuk mempelajari “apa yang tidak ada di negeri kita”. Sedangkan jalan-jalan di dalam negeri mempunyai peran sebagai wisatawan dan pemberi pemasukan pada perekonomian lokal di negeri kita sendiri.

Di sini sebenarnya saya tidak memperdebatkan “mana yang lebih baik?” tetapi lebih kepada “sebaiknya yang mana?”. Jalan-jalan itu lihat ke tujuannya. Kalau tujuannya untuk lebih membuka wawasan tentang dunia dan kebudayaan yang jauh berbeda, lebih baik jalan-jalan lah ke luar negeri. Tapi, kalau hanya berminat refreshing saya akui lebih baik jalan-jalan di dalam negeri. Ke Pulau Komodo, ke Raja Ampat, ke Bali, ke Jogja, ke Derawan, dan lainnya yang sangat indah dan eksotis. Selain bersenang-senang tentu bisa memajukan pariwisata Indonesia. Nah, kalau udah ke lokasi-lokasi itu lanjut jalan-jalan ke luar negeri sambil pakai kaos I LOVE RAJA AMPAT INDONESIA, sambil promosi pariwisata Indonesia ke negara lain hehehe….

Tapi, satu yang perlu digarisbawahi: banyak-kurangnya berpergian ke luar negeri sama sekali bukan indikator kesuksesan. Saya suka heran ada orang yang terkagum-kagum dengan orang yang udah pernah ke negara ini-itu kemudian mengklaim bahwa orang itu orang sukses. Pendapat saya: BELUM TENTU. Ke luar negeri itu perkara proses menurut saya, proses kita membuka cakrawala. Saya lebih senang orang dibilang sukses kalau dia bisa mengambil sesuatu hasil bermanfaat dari luar negeri kemudian dia melakukan sesuatu dari hasil tersebut untuk negerinya sendiri. Insya Allah, saya pengen banget jadi orang seperi itu. Pasti teman-teman juga kan? :)

8 Comments to “Jalan-jalan Ke Luar Negeri”

  1. Rissa Devina says:

    setujuuuu :D

  2. Zulfika Satria says:

    Makasi komennya :D

  3. ayu emiliandini says:

    zulfi, aku berasa “nobody~ nobody but you~” banget nih yeh bacanya hahahaa… aku belum pernah keluar negeri #miris

  4. Zulfika Satria says:

    Ya gapapa yuu haha ini kan maksud aku klarifikasi kalo ke luar negeri itu ga berarti ga cinta sama negeri sendiri :)

  5. Hermawan Santoso says:

    inspiratif mas, ngebacanya asik :)

  6. Zulfika Satria says:

    Terima kasih hermawan, selamat ngeblog juga :D

  7. Zulfika Satria says:

    Betul sekali her!

  8. Ade Kurniawati says:

    Terima kasih ya udah mengunjungi blog saya, maaf baru sempet mampir ke sini. Nice share. Keep writing and inspiring. :)

Leave a Reply

Before you post, please prove you are sentient.

What has leaves, a trunk, and branches, and grows in forests?