Nesospolitan
Shape my words to shape our city – Zulfika Satria's Blog
KKL Thailand (3): Rencana Rahasia Bangkok untuk Banjir
Categories: Jalan-jalan

Puas berjalan-jalan dan bersenang-senang di Pattaya yang memang menjadi kota buatan Thailand untuk wisata, setiba di Bangkok kegiatan wisata kami yang hanya bersenang-senang mulai berubah menjadi “harus mempelajari” sesuatu. Seharusnya KKL ini memang memuat tentang kunjungan ke suatu instansi yang sekiranya dapat memberikan wawasan tentang perencanaan di kota tujuan. Sayang, berdasarkan penjelasan dari dosen kami, email dari pihak jurusan ke instansi Thailand tidak ada yang terbalas. Kata beliau karena Thailand memang cukup tertutup, tapi mungkin bisa jadi krn alasan lain.

Untungnya kunjungan ke Thailand ini, kami masih diberi kesempatan untuk diberikan kuliah umum di Thammasat University. Kampusnya berada di pinggir Kota Bangkok. Di samping Thammasat University juga terdapat banyak perguruan tinggi seperti Asian Intitute of Technology dan Thailand University. Banyaknya perguruan tinggi di kawasan ini menjadikannya seperti Tembalang di Semarang yang menjadi kawasan pendidikan. Perjalanan ke Thammasat menempuh waktu kurang lebih 30 menit. Perjalanan terasa cepat karena menggunakan jalan bebas hambatan. Kampusnya cukup keren, luas, dan asri sekali. Banyak pohon-pohon rindang, jadi terasa sejuk walaupun cuaca saat itu sangat panas. Terlebih lagi antara gedung terdapat jalur pedestrian yang diberi atap seperti yang ada di ITB.

Papan signage Thammasat University

Green Building di APTU

Kunjungan kami tepatnya berada di APTU (Architecture and Planning, Thammasat University). Gedungnya “compact”, minimalis, terdiri dari 4 lantai. Ada liftnya dan di tiap balkom dalam gedung ditanami tanaman rambat. Boleh dibilang green building tidak ya?

Di APTU ini kami diberi kuliah umum oleh Prof. Ramon C Sevilla, Ph.D yang merupakan dosen sekaligus international expert di APTU. Beliau menyampaikan kuliah mengenai perubahan iklim di Bangkok dan sekitarnya yang dikaitkan dengan bencana banjir tahun 2011 lalu. Prof Ramon memberikan kuliah dengan sangat menarik. Penjelasan tentang bencana banjir dan kaitannya dengan climate change disampaian dengan bahasa Inggris yang ringan dan mudah dimengerti. Beliau menyampaikan bahwa bencana banjir pada tahun 2011 merupakan banjir terbesar yang pernah dialami Bangkok dan di Thailand secara keseluruhan.

Prof Ramon memberikan kuliah tentang penanganan banjir di Bangkok 2011 silam

Sebelum kuliah umum, mejeng dulu (depan itu namanya ikfi)

Penanganan banjir di Thailand sejak tahun 2011 telah diurusi oleh badan bernama FROC (Flood Relief Operation Command). FROC merupakan badan yang mengkoordinasikan penyelamatan korban banjir. FROC ini dipimpin  oleh Hakim Tinggi di Thailand. FROC merupakan badan independen yang dibentuk oleh Perdana Menteri Thailand pada tahun 2011.

Walaupun telah adanya FROC dalam menangani banjir, Kota Bangkok lebih dikoordinir langsung oleh BMA (Bangkok Metropolitan Authority) sendiri. Kalau disamakan dengan Indonesia mungkin FROC itu sama dengan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dan BMA adalah Pemprov DKI. Jadi Pemerintah Bangkok melalui BMA memiliki langkah-langkah sendiri dalam penanganan banjir tanpa mempedulikan FROC (Kalau dianalogikan di Indonesia, misalnya Pemerintah DKI tidak peduli pada arahan BNPB dan cenderung mengatur Jakarta sendiri).

Pemerintah Bangkok mengutamakan pembangunan sistem kanal yang sangat massive yang diiringi dengan pembangunan tanggul cincin pembatas luar (ring barrier outside) yang akan melindungi Kota Bangkok dari banjir. Mengingat pembangunan fisik yang sangat besar, proyek ini dinilai berbiaya sangat tinggi. Namun, langkah ini telah menjadi prioritas Pemerintah Bangkok dari tahun ke tahun. Pemerintah juga berencana membangun embankment di sepanjang sungai Chao Phraya yaitu berupa tanggul dan tanah reklamasi di sepanjang sungai untuk mencegah atau memperlambat air masuk ke daratan.

Rencana Giant Sea Wall atau tanggul raksasa yang mengitari Bangkok

Pemerintah Bangkok juga berencana untuk membangun terowongan besar (Giant Tunnel) di dalam tanah yang menghubungkan Ayutthaya hingga batas selatan Bangkok Metropolitan Region menuju laut. Yap ini yang lagi hangat dibicarakan di Jakarta yaitu proyek Deep Tunnel. Proyek raksasa ini akan menghabiskan dana US$550.000.000 atau senilai Rp5.060.000.000.000 (lima trilyun rupiah). Rencana banjir yang datang dari dataran yang lebih tinggi akan dialirkan masuk di pintu masuk terowongan raksasa ini yang berada di kota Ayutthaya (utara Bangkok) kemudian airnya akan dialirkan langsung ke laut. Saat tidak terjadi banjir atau saat musim kemarau, terowongan raksasa ini akan digunakan sebagai jalan bebas hambatan. Terowongan ini akan dibangun sepanjang 13.5 km dengan diameter 6 meter.

Bagaimana lumayan persis kan dengan yang direncanakan di Jakarta?

Rencana Terowongan Raksasa di bawah tanah

Untuk kawasan industri terdapat rencana pembangunan tanggul khusus untuk melindungi kawasan industri. Sebenarnya akibat banjir yang dialami Thailand di penghujung tahun 2011 lalu, dampak yang paling terasa adalah di sektor industri. Industri di Thailand banyak berlokasi di Ayutthaya yang merupakan salah satu daerah yang terkena banjir paling parah. Banjir menggenang hingga mengganggu produksi dari sektor industri tersebut. Bahkan investor dari Jepang yang notabene berinvestasi sangat besar di Thailand merasa kecewa dengan kejadian ini. Pemerintah Bangkok dianggap terlalu melindungi Bangkok (sebagai pusat perekonomian utama dan ibukota Thailand), tetapi mengesampingkan keberadaan industri di Ayutthaya. Hal ini kemudian ditindaklanjuti oleh Pemerintah Thailand dengan rencana untuk membangun tanggul di kawasan industri. Tanggul ini akan dibangun mengitari kawasan industri di Ayutthaya sehingga diharapkan saat hujan deras melanda lagi, proses produksi di industri tidak terganggu.

Langkah lain yang dilakukan Pemerintah Thailand dan Pemerintah Bangkok adalah membangun water retention area atau kolam retensi yang berfungsi sebagai waduk kecil. Kolam retensi ini akan dibangun di wilayah-wilayah yang cukup jauh dari Sungai Chao Phraya sehingga air-air yang mengalir menuju sungai ini akan tertampung dahulu di kolam retensi tersebut. Jadi fungsinya adalah untuk meminimalkan run-off air yang akan dialirkan ke sungai Chao Phraya kemudian ke laut.

Sebuah langkah mitigasi untuk bencana banjir ini sebenarnya telah diusulkan oleh Raja Thailand yaitu menanam banyak pepohonan terutama di wilayah dataran tinggi di Thailand. Akan tetapi, usul raja ini kurang mendapat apresiasi dari pemerintahan Thailand sendiri karena anggaran yang dikeluarkan hanya sebesar 100 Baht per pohon (senilai Rp30.000/pohon). Dana tersebut tentu sangat kecil untuk membangun “hutan baru” di utara Bangkok yang merupakan dataran tinggi di Thailand. Padahal rekomendasi ini dinilai merupakan langkah yang memiliki manfaat berkelanjutan. Pepohonan mampu menyerap air dan mengurangi aliran run-off air yang mengalir ke Bangkok hingga ke laut.

Selain memiliki langkah-langkah mitigasi yang baik dan dapat dijadikan contoh best practice yang baik di Indonesia, Thailand terutama Bangkok masih dinilai memiliki kelemahan dalam mengambil langkah-langkah tersebut. Kelemahan tersebut di antaranya adalah pembentukan FROC yang manfaatnya kurang terasa. Badan penanggulangan banjir di Thailand sebenarnya telah ada yaitu bernama NWRFPC (National Water Resources and Flood Policy Committee) sehingga pembentukan berbagai lembaga ini menjadikan sebuah tumpang-tindih dan dualisme rencana program. Selain itu BMA sebagai badan pemerintah tunggal di Kota Bangkok yang mengkoordinasi seluruh rencana dan kegiatan di Bangkok Metropolitan Region kurang terlihat memikirkan kerjasama dan koordinasi dengan wilayah di sekitarnya.

Akhirnya dapet ilmu juga tentang perencanaan Thailand. Thanks APTU :)

Akhirnya dapet ilmu juga tentang perencanaan Thailand. Thanks APTU :)

Perjalanan dilanjutkan mengunjungi kota Ayutthaya. Kota ini dulunya merupakan ibukota negara dari Thailand yang kemudian dipindahkan ke Bangkok pada tahun 1767. Menurut cerita dari Sophon (sang tour gude), penyebabnya pada pada saat itu adalah karena Ayutthaya dibumihanguskan oleh pasukan Myanmar yang pada waktu itu sedang terjadi perang dengan Kerajaan Siam di Thailand. Kota ini merupakan kota yang terkena dampak banjir besar pada tahun 2011 lalu. Namun, saat melihat sendiri di sana sudah tidak terlihat bekas-bekas kota ini terkena bencana banjir tersebut. Sepertinya Pemerintah Thailand atau pemerintah kota Ayutthaya sangat sigap dalam melakukan penanganan dan rekonstruksi pasca bencana tersebut terjadi.

Kompleks kuil di Ayutthaya

Salah satu nuansa Ayuthaya, coba perhatikan selalu ada foto raja di mana-mana bahkan di persimpangan

Situs sejarah ditata sedemikian rupa sehingga menjadi public space yang menarik turis

Becak khas di Ayutthaya

Salah satu pemandangan di tepi sungai Ayutthaya, lihat bangunan yang berasitektur Thailand yang sangat kental berpadu dengan modernitas. Eksotis!

Kota ini banyak menyimpan arsitektur-arsitektur bangunan yang kuno. Banyak sekali bangunan-bangunan bersejarah seperti kuil yang terbuat dari bata merah. Untuk suasana hampir mirip dengan suasana kota atau kabupaten di Indonesia. Salah satu bangunan bersejarah yang menarik adalah Wat Rachaburana dengan bangunan khas dari bata merah. Sisi kunonya masih dilestarikan, namun tidak terkesan kumuh. Di sekitarnya dikembangkan rerumputan hijau sehingga menjadi ruang publik yang sangat bagus untuk masyarakat. Berkunjung ke situs kuno di Ayutthaya ini seperti berkunjung ke Komplek Candi Prambanan.

Leave a Reply

Before you post, please prove you are sentient.

What is 5 multiplied by 2?