Nesospolitan
Shape my words to shape our city – Zulfika Satria's Blog
Keliling Jepang (Chapter 1)
Categories: Cerita, Jalan-jalan

Tidak terasa (beneran dan bukan basa-basi) rasanya udah hampir setahun dari keberangkatan saya ke Jepang dalam rangka program Jenesys 2.0. Sejatinya artikel ini udah saya mulai tulis dari lama, cuman karena sibuk (sibuk ngapain ya tapi sebenernya? hmmm…) akhirnya ngendon di folder draft aja sampai akhirnya publish juga hehehe.

Tanpa berniat riya’ dan perilaku buruk lainnya, alasan saya nulis ini cuman ingin sharing aja tentang “ngapain sih ke Jepang?”, “program apaan tuh Jenesys 2.0?”, dan lain-lainnya yang mungkin berhubungan. Saya bagi-bagi jadi chapter aja ya biar sekali baca ga jreeeeng buanyak banget. Pasti jenuh. Dan saya namain chapter biar kekinian kayak film Insidious gitu hehehe…

Okay, have a seat and fasten your seat-belt. Here we go!!

*************

“Cieee Mas Zul selamat ya ke Jepang!”

Seorang adek kelas ngabarin via LINE waktu itu. Seketika jantung rasanya berhenti. Kaget. Apakah ini maksudnya saya keterima Jenesys??

Langsung tangan ini mengetik situs Kemenristek…… Ketik sambil tangan gemetaran… dan…… ternyata beneran! Aaaaaaak… saya langsung teriak di tempat. Alhamdulillah, terima kasih Ya Allah! :D

Setelah agak tenang beberapa menit kemudian saya inget kalau teman saya Imam juga ada di list. Langsung aja deh saya telpon.

“MAAAAM! KITA BERANGKAT KE JEPANG BARENG!”

“Hah? Serius, Zul?”

“Iyaa, cuman namanya Imam Wahyudi barangkali ada yang ngembarin. Kalau iya aku mau ngekek aaah… :P”

Setelah obrolan kabar-kabaran selesai, seharian itu saya cengar-cengir dan senyum bahagia terus sampai malam.

Sejatinya, cerita sebelum keberangkatan Jenesys ini sangat menarik untuk diceritakan. Mulai dari kepoin seluruh peserta Jenesys dari UNDIP, add facebook satu-satu, ketemuan, sampai persiapan-rempong-tapi-seru buat ke Jepang (baca: beli jaket di pasar awul-awul sampai beli oleh-oleh khas Indonesia untuk keluarga di Jepang). Tapi, rasanya kurang penting buat diceritain di sini ya. Atau kalau ada inspirasi segar dan niatan suci mungkin akan saya tulis artikel susulannya.

Langsung saja kita ke cerita acara utamanya.

JENESYS, apa sih itu? Pada intinya ini program dicanangkan oleh Pemerintah Jepang untuk mempromosikan budaya dan nuansa kehidupan Jepang ke pemuda-pemuda dunia. Semuanya dibayarin mulai dari berangkat sampai pulang lagi ke Indonesia. Ada kecualinya yaitu biaya buat oleh-oleh dan biaya tiket ke Jakarta PP kalau yang tidak tinggal di Jakarta. Baik banget, kan? Salut deh buat Pemerintah Jepang yang sudah “world-minded“. Nah kalau berdasarkan namanya, yaitu JENESYS 2.0 Science and Technology 8th Batch, Jenesys yang saya ikuti kali ini sudah kali ke-8 nya. Daaan… senangnya saya adalah tema Jenesys kali ini adalah Urban Engineering and City Planning. Sesuai banget dengan jurusan kuliah saya. Alhamdulillah, beribu-ribu syukur benar-benar saya panjatkan. Saya merasa benar-benar beruntung kali ini.

HARI PERTAMA

Hari pertama ini didedikasikan untuk hari keberangkatan. Untuk pertama kalinya saya bertemu dengan 96 teman dari berbagai daerah di tanah air. Ada yang dari Aceh sampai dari Makassar. Senang, itu kata yang paling tepat untuk menggambarkan. Saya senang karena bisa mempunyai teman-teman baru yang berasal dari daerah lain. Harapannya dapet gebetan tapi gagal.
Di hari pertama ini kami diberikan pengarahan tentang dokumen-dokumen yang harus dipersiapkan sampai kami nanti dijemput oleh panitia di Jepang.

Setelah masuk ke dalam pesawat Japan Airlines, saya mulai benar-benar berkenalan dan ngobrol dengan teman sederet kursi saya. Namanya Leo dan Gilang. Ternyata Leo ini kecilnya pernah tinggal di Jepang jadi cukup ngerti bahasa Jepang. Awal ngehnya waktu dia minta makanan dan minuman ke pramugari selalu pakai bahasa Jepang. Ga banyak yang kami bicarakan sih karena pesawatnya berangkat malam hari yang mana itu waktu untuk tidur. Kami tiba di Jepang pagi harinya. Penerbangan CGK – NRT menghabiskan waktu 6 jam.

HARI KEDUA

Kami dijemput oleh panitia di airport. Bandara Narita bagus yah layaknya bandara-bandara kontemporer internasional lainnya. Saya tidak menemukan ciri khas ala-ala Jepang di bandaranya (kecuali banyak tulisan berhuruf hiragana, katakana, dan kanji tentunya hehehe). Waktu itu kami dibagi menjadi 4 kelompok. Saya masuk ke grup D dengan warna pink. Duileeeh.. Sekalian juga kami dibagi-dibagi supervisornya. Kelompok D dipandu oleh Mba Pipit dari Planologi ITB.

P1000522

Diajakin Leo (Baju Hitam) sama Gilang (Jaket Hijau) foto sama pramugari Japan Airlines. Brilliant idea!

P1000533

Horeee! Welcome.. welcome..

Setelah rempong-rempong ria di airport, kami dibawa dengan bus ke Hotel East 21 Tokyo. Keluar airport wuuuuz… dingin karena masih masuk musim semi. Cukup jauh dari airport sekitar 60 menit perjalanan. mulailah di sini kamera mulai saya keluarkan buat motret-motret pemandangan kota yang oke banget. Di Jepang karena lahannya sempit jadi udah banyak yang namanya rumah susun. Oya mobil-mobil di Jepang juga mayoritas sama bentukannya kayak di Indonesia jadi sekilas kayak ngerasa masih di Indonesia hahaha… Tapi semua itu berubah saat udah bener-bener masuk ke pusat kota Tokyo. Banyak gedung bertingkat, rapi, dan banyak gerombolan pejalan kaki. Satu yang jadi kelemahan Kota Tokyo sebagai kota dunia adalah (yang di hari-hari berikutnya memang diiyakan oleh orang Jepang) sistem jaringan listrik yang masih di atas tanah alias pakai tiang listrik. Alhasil ya pemandangan kota Tokyo banyak tertutupi gandulan-gandulan kabel listrik. Ga jauh beda sama Jakarta ya hehehe…

P1000550

Tokyo! Menara Tokyo Skytree dari kejauhan

P1000617

Jalan kaki nyaman di Jepang

Tiba di hotel, kami disambut oleh Koordinator Grup yang mayoritas berasal dari orang Jepang yang bisa bahasa Indonesia.

Hah bisa bahasa Indonesia??

Iya, betul ga salah baca. Koordinator itu orang-orang Jepang atau orang Indonesia pilihan yang bisa bahasa Jepang dan Indonesia. Kalau yang orang Jepang biasanya lulusan sastra Indonesia atau pernah exchange ke Indonesia. Sedangkan orang Indonesia yang terpilih adalah yang tinggal atau kerja lama di Jepang.

P1000558

Ochi-san. Mukanya Jepang banget tapi orang Jember

Grup D kebagian koordinator bernama Ochi-san (Indonesia) dan Hanada-san (Jepang). Eh tapi biar Ochi-san ini orang Indonesia, tapi perawakannya udah kayak orang Jepang. Kita kaget dia bisa bahasa Indonesia fasih banget. Eh ternyata beliau orang asli Jember :’D Kalau Hanada-san lulusan sastra Indonesia di Tokyo University. Saya awalnya heran “Wow ambil kuliah sastra Indonesia? Beneran? Buat apa? Beneran milih sastra negara yang suka ditanya sebelah mananya Bali ini?”

Oke, lebay sih.

Saya akhirnya beranikan tanya ke Hanada-san. Ternyata alasan dia ambil jurusan itu saat kuliah adalah karena ingin belajar bahasa lain di Asia. Mempertimbangkan negara-negara di Asia yang punya bahasa tersendiri, dia memilih bahasa Indonesia karena Indonesia memiliki penutur yang paling besar (jumlah penduduk Indonesia 200 juta coy). Selain itu budaya Indonesia juga beragam, jadi beliau bisa dapet “bonus”. Apalagi pertumbuhan ekonomi Indonesia selalu bagus dan diprediksi menjadi 10 besar kekuatan dunia beberapa tahun mendatang. Ah, saya jadi terharu dan seketika bangga dengan Indonesia.

Oke, kembali ke cerita. Saat tiba di Hotel East 21, Ochi-san menjelaskan secara singkat tentang peraturan salam kegiatan Jenesys ini. Yang paling ditekankan adalah “Jangan pernah terlambat!” Bahkan orang Indonesia udah terkenal suka ngaret :( Kami pun kemudian digiring masuk ke ruang pertemuan di hotel untuk diberi orientasi lagi tentang budaya dan cara hidup masyarakat Jepang.

Orientasi selesai dan akhirnya saya bisa mengikrarkan:

“Dengan ini petualangan di Jepang dimulai!!”

Malam hari adalah momen petualangan saya dan teman-teman yang pertama. Berdasarkan jadwal, besok pagi-pagi kami sudah harus berangkat ke Sendai. Jadi menikmati Tokyo di malam hari cuma bisa hari ini. Baiklah, ga masalah. Selepas makan malam, saya dan teman-teman sudah menyusun strategi untuk menuju Shibuya. Gilaaaa! Itu tempat wajib kalau kita ke Tokyo. Kalau belum ke sana, ibarat ke Palembang tidak foto di depan Jembatan Ampera.

Bermodalkan nekat dan dengan penjelasan dari koordinator cara menuju Shibuya dengan subway, kami memberanikan diri menuju Shibuya rame-rame. Cukup simpel kok, tinggal beli tiket di mesin otomatis sesuai tujuan akhirnya. Ada banyak sekali line di sistem subway Tokyo. Tiba di stasiun Shibuya, kami keluar dan melihat gemerlapan Kota Tokyo malam hari yang menakjubkan :’) Iseng-iseng saya juga nyebrang di Shibuya Famous Street Cross, alias persimpangan jalan Shibuya yang tersohor itu. Hahaha rasanya sekejab jadi fabulous banget berjalan bersama lautan manusia.

Okay, another lebay moment….

Di Shibuya kita juga bisa foto-foto di patung Hachiko. Tahu, kan, pasti siapa Hachiko? Yup, si anjing setia yang selalu nungguin majiikannya pulang di stasiun Shibuya. Saking terkenalnya bahkan udah difilmin loh. Cuman harus sabar foto di patung itu karena rame banget. Jadi harus antre.

P1000591

Reklame-reklame di simpul shibuya. Harganya pasti selangit!

P1000578

Hehehehe…

P1000573

Shibuya Crossing. Manusia udah kayak semut!

P1000596

Gegayaan nyebrang cuma mau ngerasain jadi masyarakat Shibuya :’)

P1000598

Hachiko, foto bareng Nopia temen galau bareng keberangkatan hehehe

Peraturan dari panitia yang mengharuskan peserta pulang ke hotel sebelum jam 22.00 membuat kami harus buru-buru pulang. Kalau tidak nanti bisa diberi punishment. Walaupun gatau apa punishment-nya, kami sebagai tamu di negeri orang tentu berusaha mematuhi peraturan tersebut. Hmmm… tapi sayang ekspetasi tidak sesuai dengan realita. Kami tersesat dan gatau cara pulang yang benar. Melihat kami yang kikuk, ada bapak-bapak tua yang mnawarkan bantuan ke kami dengan bahasa tarzan tentunya. Kami diberi petunjuk cara beli tiket yang mana dan harus berjalan ke koridor mana. Eh ternyata si bapak minta upah 500 yen untuk jasa bantuannya. Well, gapapa sih. Itu senilai 50.000 rupiah. Tapi jangan salah 500 Yen itu cuma bisa buat beli sebuah gantungan kunci ko di Jepang :’)

P1000604

Naik Subway dudududu… Kayak naik KRL perasaan hahaha

Dengan bantuan bapak tadi plus kemampuan bahasa Jepang teman saya Zhega yang casciscus akhirnya kami tiba di hotel….. lewat dari jam 22.00. Hahaha yaah tapi telat 10 menit kalau ga salah. Ukuran yang masih wajar untuk orang Indonesia kan hehehehe…

bersambung………

Leave a Reply

Before you post, please prove you are sentient.

What is 6 times 6?