Nesospolitan
Shape my words to shape our city – Zulfika Satria's Blog
Keliling Jepang (Chapter 2)
Categories: Cerita, Jalan-jalan

HARI KETIGA

Entah harus senang atau sedih dengan susunan jadwal yang dibuat oleh pihak Jenesys, yang pasti jadwalnya sangat-sangat padat. Dalam waktu 9 hari, peserta diberi kesempatan mengunjungi 3 kota sekaligus di Jepang yaitu Tokyo, Sendai, dan Kitakata. Kalau dari google maps, jarak Tokyo ke Sendai ada 444 km atau kurang lebih sama kayak jarak Jakarta – Semarang. Seneng sih, jadi bisa jalan-jalan dan banyak lihat pemandangan Jepang yang entah kapan bisa ke sana lagi. Tapi, jujur melelahkan juga.

Lokasi Tokyo dan Sendai silakan dicek sendiri

Lokasi Tokyo dan Sendai silakan dicek sendiri

Hmmm, ga salah sih di awal panitia seleksi memang mensyaratkan peserta untuk selalu memiliki kondisi fit. Panas dikit aja? Jangan harap bisa lanjut ikut jalan-jalan. Beneran! Jadi tiap hari, peserta harus dicek pakai thermometer buat diukur suhu badannya. Di atas 37 Celcius? Siap-siap aja buat ditahan panitia dan wajib hukumnya istirahat. Fiuuh.. untung alhamdulillah selama di sana saya sehat walafiat :)

Hari ketiga ini pun dimulai dengan ritual cek suhu badan, lanjut kumpul di hall Hotel East 21 Tokyo sambil bawa koper lengkap. Rencananya memang langsung check out dan nantinya bakalan pindah nginep di hotel di Sendai.

Perginya naik apa? Nah, ini nih yang bikin excited. Peserta diajak buat naik Shinkansen yang terkenal itu untuk menuju ke Sendai. AAAAAAKK! Seneng banget rasanya bisa nyobain kereta super cepat teknologi Jepang ini. Dari Tokyo, perjalanan dimulai di Tokyo Station. Stasiunnya besar dan berarsitektur modern kontemporer (ga ada nuansa-nuasan budaya klasik Jepangnya). Yang khas dari stasiun ini bagi saya pribadi adalah adanya loker-loker buat nitipin tas trus pakai koin gitu kalau mau pakai (yang suka ada di komik Kobo Chan, Conan, dll gitu deh hehe). Selain itu stasiunnya juga pastinya bersih. Kios-kios penjual juga ada di dalam jual berbagai macam makanan, minuman, dan souvenir.

Biar namanya kereta peluru, gahar bener. Tapi, warnanya girly ko ;)

Biar namanya kereta peluru, gahar bener. Tapi, warnanya girly ko ;)

Masuk ke peron adalah hal yang paling bikin deg-deg-an. Akhirnya liat kereta peluru khas Jepang itu dengan mata kepala sendiri. Ga usah ditanya, foto-foto alay dan narsis berlatar belakang Shinkansen sih udah pasti kami lakukan hahaha… Kereta shinkansen yang akan kami naiki ternyata masih harus menunggu setengah jam lagi. Dan ingat ya, karena ini Jepang, semua berjalan tepat waktu. Uniknya lagi, Shinkansen ini berhentinya udah kayak KRL loh. Maksudnya? Jadi berhentinya buat naik-turun penumpang cuma 5 menit. Jadi engga ada ceritanya kayak di Indonesia naik keretanya sempet peluk-pelukan dulu dan ditungguin sampai setengah jam baru berangkat. Karena cepatnya itu, sepertinya penumpang juga tidak diperkenankan membawa koper superbesar. Yang bisa dijinjing aja. Oleh karena itu, koper-koper kita yang super gede dan bikin rempong diangkut panitia pakai bus sendiri via jalur darat.

1982114_10203270341134513_5743245107327120562_n

Di dalem Shinkansen. Biasa aja kan ya? :))

Shinkansen Shop, jualan barang lucu-lucu!

Shinkansen Shop, jualan barang lucu-lucu!

Perjalanan ke Sendai dengan Shinkansen hanya memakan waktu 2 jam yang mana kalau menggunakan mobil di jalan bebas hambatan bisa sampai 5 jam. Rasanya gimana di kereta supercepat? Pusing ya? Sama sekali engga. Malahan rasanya kayak naik kereta biasa beneran. Teknologinya Jepang sudah sampai level naik kereta cepat engga kerasa kayak kebanting di dalamnya ya. Keren!

Sampai di Sendai dalam waktu sekitar 2 jam, kami keluar di Sendai Station. Impresi pertama melihat Kota Sendai: bersih dan berwarna-warni hahaha soalnya gedung-gedung di depan stasiun bagus gitu perpaduan warna-warni yang dijamin bagus buat foto-foto. Sendai juga ga sehingar bingar Tokyo jadi menurut saya pribadi kota ini nyaman banget.

Penampakan kota Sendai di depan stasiun

Penampakan kota Sendai di depan stasiun

Menginjak makan siang, kami makan di Aoba Castle. Lokasi resto ini asik banget karena berada di perbukitan gitu. Jadi di tepi tebing kita bisa lihat Kota Sendai dari ketinggian. Di sini juga pertama kalinya kita ngelihat bunga Sakura. Thank God, bunga khas Jepang itu memang selalu mekar di bulan Maret-April dan kami masih sempet ke Jepang di akhir masa mekarnya :D Foto-foto? Perlu ditanya nih? hehehe. Di Aoba ini kami makan traditional food ala Jepang yang………….. hambar dan semua peserta sepakat. Hahahaha.. tapi sejujurnya makanan di Jepang memang banyak yang hambar. Entah memang hambar secara harfiah atau karena orang Indonesia kalau masak terlalu berbumbu jadinya masakan Jepang yang sebenarnya takaran bumbunya pas jadi terasa hambar.

Makanan ala Jepang yang sayangnya hambar banget :')

Makanan ala Jepang yang sayangnya hambar banget :’)

Inti kegiatan hari ketiga ini adalah mengunjungi Tohoku Institute of Technology. Di sana kita diskusi bareng tentang mitigasi bencana dan proses rekonstruksinya. Kalau masih pada ingat 2011 silam Prefektur Fukushima terkena gempa dan tsunami yang maha dahsyat. Saking dahsyatnya sampai jadi berita dunia dan ada isu tsunami itu mengganggu kinerja power plant nuklir di sana. Tapi, ya namanya negara maju yang ekonominya cenderung stabil, Jepang menurut saya sudah sangat sistematis dalam melakukan segala upaya untuk merekonstruksi pasca bencana. Eits, tapi jangan salah. Gitu-gitu dalam pemaparannya, Jepang ternyata merasa masih semrawut lo. Dan mereka belajar dari Australia yang dianggap sangat baik dalam manajemen bencananya. Jepang aja….. yang gempa dan tsunami udah biasa…… merasa masih belum bagus manajemennya……. apakah berarti Indonesia hanya reremahan rempeyek? Ah yang penting, kami mendapat ilmu dan inspirasi yang sangat bermanfaat dari diskusi ini. Semoga bisa disyiarkan ke bangsa dan tanah air nantinya. Aamiin.

Di Tohtech, kegiatan berlanjut dengan keliling kampus. Ceritanya melihat-lihat fasilitas kampus dan karya-karya mahasiswa yang sudah dihasilkan. Bisa prototype, design, penelitian, dll. Oya berkaitan dengan Jepang yang sering gempat tadi, di sana ada teknologi struktur bangunan dengan menggunakan dumper (teknologi perpaduan minyak dan karet). Jadi sendi-sendi kerangka bangunan akan eleastis gitu saat terkena guncangan. Selain itu, kami masuk ke laboratorium jembatan, ada juga laboratorium rekayasa gelombang, ada ruangan yang isinya desain maket, dan juga hasil studio perencanaan kawasan. Bagus-bagus pokoknya!

Group D sendiri dipandu sama mahasiswa asal Thailand yang kuliah master di sana namanya Pacara. CANTIK. hahahaha tapi ternyata biar cantik dan kayak masih kinyis-kinyis dia udah berumur 26 tahun hehehe.. Senang dengan cara dia memandu kami, lembut dan helpful. Saya yang kebetulan pernah ke Bangkok berusaha sok pdkt gitu cerita-cerita tentang hasil studi saya ke Bangkok hehehe…

Pacara! Yang 3 dari kiri :3

Pacara (yang pacar-able deh)! Yang 3 dari kiri :3

Gedung TohTech, ada rangka anti gempanya yang biru silang

Gedung TohTech, ada rangka anti gempanya yang biru silang

Selamat datang :)

Selamat datang :)

Well, seneng banget dengan acara di Tohtech ini. Ilmu yang didapat banyak banget. Puas intinya. Acara kunjungan ini kemudian ditutup dengan foto bareng dan bikin origami burung bangau buat kenang-kenangan.

Hari menjelang malam, lanjut kami semua dibawa kembali ke hotel. Selepas makan malam, acara bebas. YES! Kesempatan emas banget buat jalan-jalan keliling Sendai. Walaupun kami udah dibikin grup-grup, kalau soal jalan-jalan kami udah membaur banget dan malah kebagi-bagi lintas grup. Jalan malam waktu itu saya jalan bareng sama mostly temen-temen dari Undip. Kenalan pertama kalinya juga sama Teddy, mahasiswa tahun pertama dari Unmul, Samarinda (haduh, beruntungnya kau nak), dan beberapa temen lainnya (Eci, Karina, Mas Boni, Emi, dll masih banyak hahaha). Kami cuma jalan-jalan aja sighseeing melihat gemerlapan Kota Sendai. Masuk ke gang-gang yang ada berbagai restoran dan takjubnya walaupun lebar gangnya persis kayak di gang-gang indonesia tapi bersih banget dan engga ada bau selokan. Tujuan wajibnya ke koridor Jalan Jozenji yang bisa dibilang jadi koridor khas Kota Sendai. Festival-festival sering dilakukan di jalan itu. Jalannya bagus dengan ada taman lebar yang memisahkan lajur kanan dan kiri jalan. Engga ada aktivitas lain selain: FOTO-FOTO SAMPAI PUAS!

Narsis di Sendai

Narsis di Sendai

Jozenji Street. Kami udah fix jadi Anak Gaul Sendai!

Jozenji Street. Kami udah fix jadi Anak Gaul Sendai!

HARI KEEMPAT

Perjalanan kali ini lanjut ke Kitakata. Perjalanan 2 jam dengan bus via jalan bebas hambatan. Boleh dibilang ini nih acara terpenting dari Jenesys kali ini. Kalau berdasarkan jadwal acara yang udah dibagiin di hari kedua, di Kitakata ini peserta bakalan belajar banyak tentang penataan kota dari Pemerintah Kota Kitakata. Ya sebenarnya ini juga paling nyambung sama perencanaan wilayah dan kota yang menjadi basic ilmu kuliah saya hehehehe…

Lokasinya nih

Lokasinya nih

Sampai di Kitakata, kami disambut habis-habisan sama pemkotnya. Sampai ada spanduk selamat datang. Dan aseli, kota ini memang kota kecil yang nyaman. Saya bayangin kalau di Indonesia ini kayak kunjungan ke desa dan kita disambut di balai desanya. Engga ada bangunan tinggi macam pencakar langit di sini. Beda banget sama Tokyo dan Sendai.

Di balai itu, kami diperkenalkan dengan profil kota Kitakata. Kota ini terkenal dengan green tourism-nya. Jadi mengajak wisatawan untuk tinggal bersama penduduk dan merasakan kehidupan sebagai petani dengan bercocok tanam. Hari pertama ini pemkot juga banyak menjelaskan tentang Kura yang menjadi simbol kebanggaan dari Kitakata. Kura itu artinya secara harfiah adalah gudang. Jadi ya kura itu adalah gudang-gudang di Kitakata yang memiliki arsitektur yang khas. Sampai diakui UNESCO lo, mantap ga?! Padahal kalau mau skeptis kita bisa aja komen “hah, gitu doang? Bagusan rumah gadang juga kayaknya!”. Well, tapi bukan masalah bagusan mana tapi gimana effort pemerintah untuk melestarikan warisan budaya. Patut diacungi jempol deh.

Suasana di Balai Mendengar Presentasi Pemkot

Suasana di Balai Mendengar Presentasi Pemkot

Pertanian di mana-mana

Pertanian di mana-mana

Supermarket di Kitakata. Sepi dan damai kotanya. Tuh sampai gunung aja keliatan #hubungannyaapa

Supermarket di Kitakata. Sepi dan damai kotanya. Tuh sampai gunung aja keliatan #hubungannyaapa

Setelah cukup banyak mendengar penjelasan tentang Kitakata, kami semua diajak berkeliling kota melakukan observasi, dan ga lain ga bukan untuk melihat kura-kura bersejarah. Sudah sejak lama Kitakata berkembang sebagai basis pertanian di Jepang. Bangunan kura dijadikan gudang oleh para petani dan pedagang untuk menyimpan hasil panen tersebut. Oleh karena itu, gudang-gudang tua tersebut banyak tersebar di penjuru wilayah Kitakata.

Saat ini Kitakata memiliki 2600 Kura bersejarah yang sudah dilestarikan menjadi cagar budaya. Saking banyaknya, Kitakata dijuluki Kura-no-Machi atau Kota Gudang (The town of storehouses). Kura yang tersebar dan telah dipreservasi tersebut kini menjadi objek wisata menarik di Kitakata. Terdapat salah satu Kura yang memiliki area cukup luas yang bernuansa Jepang masa lampau untuk melestarikan sejarah Kura di sana yang bernama Kitakata Kura-no-Sato. Di kawasan seluas 4.500 m2 ini terdapat berbagai macam jenis Kura. Para turis diberikan tantangan untuk berjalan-jalan mengelilingi kota sambil menemukan Kura yang tersebar bahkan “nyempil” di berbagai sudut. Keren, kan?

Observasi ditemani tour guide yang jelasin sejarah kura dan kitakata

Observasi ditemani tour guide yang jelasin sejarah kura dan kitakata

Acara hari ini ditutup dengan menginap di penginapan tradisional Jepang. ASIK BANGET BENERAN! Di tiap kamar, kami dipinjami kimono dan tidurnya pun pakai futon alias kasur ala Jepang. Makan malam kali ini juga istimewa banget karena dengan duduk bersila dengan meja pendek ala Jepang (halah, maksudnya lesehan hehehe). Menunya pun sangat Jepang sekali. Habis makan ini nih yang paling mantap. NYOBAIN ONSEN! Onsen itu pemandian umum air panas ala jepang. Apa sih yang menarik?

Peraturan 1: Dilarang pakai apa-apa sehelai benang pun saat berendam!

Peraturan 2: Sebelum berendam, wajib mandi sampai bersih pakai shower yang disediakan (cara pakai showernya duduk, dan kalau malu biasanya ada handuk kecil buat nutupin *ehem* bagian itu tuh)

Berendam bareng dan telanjang bulat? Masya Allah, bukan apa-apa tapi kan malu hahaha… eh tapi dengan nekat akhirnya nyoba dan ternyata asik. Sambil berendam kita ngobrol-ngobrol ngalor ngidul dan sampai lupa apa itu telanjang hahaha… Oya tenang aja, cowo cewe dipisah kok :D

つづく alias bersambung…………..

PS: Selanjutnya bakalan bahas tentang homestay di Kitakata yang asik banget. Kapan lagi bisa hidup serumah sama orang asli Jepang?? Misal kuliah pun pasti nginepnya di asrama atau apartemen kan… :’)

Leave a Reply

Before you post, please prove you are sentient.

What color is a typical spring leaf?