Nesospolitan
Shape my words to shape our city – Zulfika Satria's Blog
Keliling Jepang (Chapter 3)
Categories: Cerita, Jalan-jalan

Alhamdulillah, tulisan bersambung Keliling Jepang ini bisa saya lanjutkan juga akhirnya hehehe… setelah sibuk dengan berbagai kegiatan di kantor (halah), saya baru sempat menulis di bulan Desember ini (selang 5 bulan! huhu maafken). Daaan… mengingat saya juga semakin menjauh dari momen ini, maka saya akan semakin lupa, maka saya harus segera menulisnya. Chapter 4 akan saya selesaikan juga sebelum Tahun Baru 2016! Hahahahaha aamiin :P

Baiklah, tanpa banyak basa-basi, mari kita lanjutkan cerita tentang jalan-jalan edukatif saya ke Jepang. Please enjoy! してください。楽しむ!

HARI KELIMA

Acara di Jepang ini masih dilanjutkan dengan presentasi yang disampaikan oleh Pemerintah Kota Kitakata. Untuk sesi kali ini fokus ke infrastruktur dan penataan kota Kitakata. WOOOOOW!! Ini tema kuliah saya banget! Saya pun menyimak dengan seksama apa saja yang disampaikan oleh Pemkot Kitakata.

Secara ringkas materi yang disampaikan tentang penataan Jalan terkenal di Kitakata. Mereka menjelaskan bahwa kelemahan dari Kitakata, termasuk Tokyo juga, adalah sistem jaringan listrik masih tergantung di atas tiang. Dampaknya dari sisi estetika adalah tidak bagus untuk pemandangan. Coba dibandingin sama London atau Paris, gak ada tuh pemandangan tiang listrik beserta kabel-kabelnya di kawasan perkotaannya. Nah, ceritanya Kitakata berhasil melakukan penataan lahan atau land readjustment itu di Jalan Sakai-Yotsuya hingga Fureai-Dori. Dipilihnya jalan tersebut adalah karena jalan itu merupakan jalan protokol utama. Ibarat Jakarta itu mungkin Jalan Sudirman. Pusat kota, koridor perdagangan, dan festival musiman selalu diselenggarakan di jalan tersebut.

Abaikan saya, yg penting koridor jalan rapi di belakangnya yang tidak ada tiang listrik

Abaikan saya, yg penting koridor jalan rapi di belakangnya yang tidak ada tiang listrik

Penjelasan Land Readjustment dari Emmy. Silakan klik untuk tahu orangnya :)

Penjelasan Land Readjustment dari Emmy. Silakan klik untuk tahu orangnya :)

Jalan di Aizu yang ditata (Distrik pusat kota Kitakata) Sumber: Emmy

Jalan di Aizu yang ditata (Distrik pusat kota Kitakata) Sumber: Emmy

Street Sign yang Informatif

Street Sign yang Informatif

Sehabis penjelasan yang disajikan dengan dwi-bahasa Jepang dan Indonesia, para peserta diajak berkeliling kota lagi melihat Jalan Sakai-Yotsuya lurus hingga Fureai-Dori, sekaligus meninjau penataan apa saja yang sudah dilakukan oleh para insinyur perkotaan di Kitakata. Mulai dari masalah listrik tadi, pembuatan trotoar yang sejajar dengan jalan untuk memudahkan orang tua dan difabel, penataan bangunan, dan perbaikan kualitas jalan di perkotaannya. Di sesi ini kita benar-benar diajak berjalan kaki keliling kota. Kalau kata “jalan-jalan” bermakna jalan dengan kaki melihat pemandangan, maka inilah jalan-jalan yang sesungguhnya :D

Kunjungan di hari ini kemudian dilanjutkan sekaligus diakhiri dengan berkunjung ke Koridor Nicchu. Koridor unik ini ditumbuhi deretan Pohon Sakura di sepanjang kanan-kiri jalan. Dulunya, koridor Nicchu merupakan jalur rel kereta yang dinonaktifkan sejak 1983. Koridor ini bebas kendaraan bermotor alias berfungsi sebagai pedestrian way. Jadi harus siapin tenaga untuk berjalan kaki sepanjang 3 km plus kamera karena sayang banget kalau sampai gak foto (biar kekinian juga hehehe).

Foto jangan lupa. Bareng Dastin dan Karina

Foto jangan lupa. Bareng Dastin dan Karina

Koridor Nicchu yang dulunya bekas rel kereta

Koridor Nicchu yang dulunya bekas rel kereta

Setelah seharian belajar ngalor ngidul tentang penataan kota dan mengunjungi situs-situs perkotaan yang menarik (jujur, saya sangat puas dengan sesi ini!), kami dijemput oleh host parents kami selama di Kitakata. KITA AKAN BER-HOMESTAY!! :D

10155241_10203805763848218_1600562779805688541_n

Tempat kami homestay di Keluarga Yamasho

Sebelum matahari terbenam kami sudah tiba di rumah Keluarga Yamasho yang berada di tengah-tengah area pertanian dan tepi sungai (rumah idaman sekali T-T). Oya, saya serumah bareng Mas Boni, Putra, Andra, dan Gilang. Kami berkenalan singkat dengan para anggota keluarga seperti sang nenek, para anak-anak, ibu kami yang ternyata sudah menjadi nenek, plus cucu-cucunya. Keluarganya sangat hangat dan saya sangat bersyukur bisa homestay di keluarga ini :’)

Oya, ada kegiatan lucu di malam hari sebelum kami tidur. Sang ibu (kami sepakat memanggilnya okaa-san) menanyakan sesuatu tetapi dia tidak bisa bahasa Inggris maupun Indonesia. Jadilah kami berkomunikasi dengan buku panduan dari panitia. Kami saling bingung sampi boleh dibilang sekitar 15 menitan tanpa mengerti satu sama lain. Akhirnya dengan bahasa Tarzan kami baru paham: Okaa-san menanyakan kami kalau bangun jam berapa agar bisa disiapkan sarapan. That’s it. HAHAHAHAHA selepas okaa-san keluar kamar kami saling menertawakan satu sama lain karena kejadian lucu ini.

HARI KEENAM

Homestay kali ini, saya berkesempatan tinggal di rumah Keluarga Yamasho di Distrik Takasato yang mata pencahariannya sebagai petani.  Tinggal bersama petani di Jepang merupakan pengalaman yang sangat unik dan menyenangkan. Jangan salah, pekerjaan petani di Jepang bukan pekerjaan dengan level ekonomi menengah ke bawah lho. Sebagai petani, keluarga yang saya tinggali memilki rumah sekaligus penginapan di area kavlingnya. Bahkan beliau juga punya beberapa mobil dan speedboat.

Trus apa bedanya bertani di Jepang dan Indonesia. Kalau boleh dibilang mereka selalu memanfaatkan teknologi dalam setiap kegiatan seperti traktor mesin, sepeda listrik, dan rumah kaca. Teknologi yang jujur sebenarnya kita sendiri sudah punya. Namun bedanya, teknologi-teknologi tersebut sudah menjadi standar dalam bertani di Jepang.

Seharian ini sampai menjelang siang saya mencoba bercocok tanam mulai dari menanam kentang, memanen sayuran, ikut membantu membangun green house, membajak ladang, dan lain-lainnya. Semua dilakukan bersama dan seolah-olah seperti kita sudah kenal lama. Seperti tidak ada perbedaan kewarganegaraan dan budaya. Aaah… jadi terharu kalau mengingat momen itu :’)

10245545_10203270371255266_136695504710343706_n

Panen Sayur

Bercocok tanam hehehe

Bercocok tanam hehehe

Gotong Royong membangun greem house. Fiuuuuh...

Gotong Royong membangun greem house. Fiuuuuh…

Membajak tanah pake mesin

Membajak tanah pake mesin

Tebak ini apa? Padi!

Tebak ini apa? Padi!

Okaa-san nyetir traktor. Mantap!

Okaa-san nyetir traktor. Mantap!

Kami juga diajak jalan-jalan ke atas bukit oleh Okaa-san, melihat sakura yang masih rimbun-rimbunnya. Plus kami juga diajak lihat ke pemakaman keluarga yang terletak di atas bukit. Aseli, pemadangan saat itu bener-bener menyejukkan. Pengen tinggal di suasana seperti itu.

Foto di atas bukit dan sakura. Bagus Banget!

Foto di atas bukit dan sakura. Bagus Banget!

Menjelang sore kami diajari cara menulis Shodo alias tulisan macam kaligrafi kanji bertinta hitam. Ternyata susah banget saudara-saudara. Makanya baru ngerti kenapa kalau di komik Kobo-chan, orang tua pada bangga banget kalau anaknya bisa bikin Shodo. Rencananya saya mau bikin tulisan “Super Sentai”, tapi gagal karena susah bianget hahahaha… akhirnya diputuskan saya nulis “hana” aja alias bunga karena mudah :P

Shodo buatan masing-masing

Shodo buatan masing-masing

Sorenya kami diajak Okaa-san jalan-jalan ke kota. Kami ke Daisho swalayan serba 100 Yen. Niatnya beli oleh-oleh sekalian okaa-san mau belanja makan malam di supermarket sebelahnya. Beliau nawarin mau sushi gak. YA MAOOOLAAAH! hahahaha kami cerita kalo sushi di Indonesia lumayan mahal jadilah dia nawarin buat dinner nanti makan sushi. Senangnya!

Malam hari, tibalah saatnya sushi time. Sekaligus momen terakhir untuk bercengkerama sama keluarga Yamasho. Sebelum makan malam kami setim sudah menyiapkan oleh-oleh dari Indonesia untuk diberikan kepada keluarga Yamasho. Kami juga udah buka kamus buat nyusun kata-kata dalam bahasa Jepang nerangin apa maksud dari oleh-oleh itu. Hahahaha kadang momen kayak gini yang paling asik dari jalan-jalan ke luar negeri.

Suasan tiap makan bersama

Suasan tiap makan bersama

Menerima oleh-oleh dari kami

Menerima oleh-oleh dari kami

Total 1,5 hari bersama keluarga Yamasho yang tidak bisa bahasa Indonesia maupun bahasa Inggris membuat kami sangat mengandalkan buku kuning dari panitia (sebutan kami untuk buku kalimat sehari-hari Jepang – Indonesia). Hanya anak dari okaa-san yang sedikit bisa bahasa Inggris dan menulis romaji. Boleh dibilang bahasa Tarzan adalah bahasa pemersatu umat manusia di dunia (halah opo seh).

Dinner kali ini terasa lebih lama karena kami cerita lebih banyak, mulai dari cucu-cucu yang menyanyi, Otoo-san yang bercerita tentang anak perempuannya yang pernah menjadi atlet juara 1 kano nasional, pengalaman keluarga Yamasho yang ternyata pernah liburan ke Bali (weleh udah pernah ke Indonesia!), dan blablabla berkualitas lainnya. Waktu ngomongin Bali kami bilang “Bali wa atsui desuka? *sambil kipas-kipas*” alias “Apakah Bali panas?” yang langsung dibalas mereka “Haii, atsui, atsui!”. Kita timpali aja “Nihon wa samui des*sambil gaya menggigil*”. Gelak tawa langsung pecah saat itu juga. Ya Allah, saya kok jadi kangen banget ya, tsaaaah….#baper.

つづく   Bersambung….

Apa yang akan dibahas di Chapter 4? Perpisahan dengan keluarga Yamasho dan momen-momen mengharukan, one day in Tokyo (akhirnya bener-bener jalan-jalan sehari menikmati kota Tokyo T-T), dan aaah… harus kembali ke Indonesia.

2 Comments to “Keliling Jepang (Chapter 3)”

  1. ursulapenny says:

    idaman bgtttt ke sini Zul.. ^^
    Really miss you my friend

  2. Zulfika Satria says:

    Semoga suatu hari bisa ke sana juga ya pen. Aku belum pernah nih ke US hehe

Leave a Reply

Before you post, please prove you are sentient.

what is 9 plus 3?